Jungkir Balik Masalah Agraria

Tinggalkan komentar

Maret 27, 2012 oleh sabiq carebesth

Bangsa ini dalam masa-masa terakhir kini terus terombang-ambing diantara kekayaan, capital, dan demokrasi. Tanah yang kaya sudah melegenda, akan tetapi tidak semua kekayaan itu menjadi capital, apa lagi untuk rakyat, sementara capital yang tidak terkendalikan hanya berarti ada yang salah dengan demokrasi di sini.

Pada tempat yang lain, mentalitas dan carakter kita makin jungkir balik; hilang tuah sejarah, seperti buih yang siap diombang-ambing kapanpun-kemanapun oleh budaya konsumtif yang maha boros dan sesungguhnya eksploitatif. Sulit dipungkiri bahwa sendi-sendi perluasan kapitalisme belakang ini nyatanya cenderung lebih di topang oleh dorongan konsumsi dan ketamakan yang saling memperkuat, dan pada gilirannya menyebarluaskan semacam virtual capital yang penciptanya hampir sama sekali terpisah dari produksi dalam sector riil. Keterasingan yang maha…

Dalam esainya, meminjam istilah Filsuf Perancis terkemuka, Alain Badiou, yang mencatat bahwa setiap manusia selalu memiliki kesetiaan (fidelity) pada alam kulturalnya. Esais Damhuri Muhammad mengajukan Tanya yang tak kepalang ironis nadanya. “Sejauh ini kita masih bisa bersetia pada adat-istiadat, etnik, agama, dan kearifan lokal, tapi kenapa kita tidak punya militansi untuk bertahan dengan mentalitas petani?”

Oh, Apa dunia kini sudah jadi seperti pasar malamnya Pramodya Annata Toer? “manusia berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang…seperti dunia dalam pasar malam…seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana” tragis!

Pemerintah kelewat adiluhung; sedikit-sedikit tersinggung. Dewan Perwakilan Rakyat–dalam demokrasi yang mekanik dan procedural ini—kadung tak punya entah tak paham etika politik, hilang komitmen dan tidak bisa dipercaya; “yang buta yang tuli mata hatinya” meminjam lyric lagu Rhoma Irama, itulah para wakil dewan itu kiranya? Aparat Tentara dan Polisi kelewat terpisah dari akarnya, kemauannya tidak bisa dibantah, rakyat tak pernah dianggap kawan, tanah hutan dan air lebih digemari untuk dikuasai sendiri; jadi pebisnis! Mencipatakan faksi modal nasional yang kelewat tidak rasional dan jungkir balik. Sementara yang kaum menengah intelektual kelewat mekanik, oportunis dan sembarangan nyaris sama saja dengan angkatan 66 tempo dulu; hanya pandai bersolek dan menjilat.

Kalau sudah begitu rakyat mau menautkan diri kemana? Mesti mempercayakan kepada siapa? Tak ada yang bisa dijadikan pemimpin, ini kah kondisi zaman edan dalam anganan R.Ng. Ronggo Warsito? Kalau tidak ikut edan tidak akan kebagian; lebih kerennya inikah namanya zaman “populi vacante”; era kekosongan kepemimpinan dimana rakyat tak memiliki pegangan ‘idiologis’ untuk mengatakan ya atau tidak atas kondisi objektif yang berubah, rakyat tak punya anutan untuk dapat dipercaya. Ironis bukan? “punya pemerintah tapi hidup terus-terusan sasah” kata Iwan Fals.
Serba salah, rakyat mau maju mandiri mengurus hidupnya sendiri dikata ekstrimis, subversive, pembangkang. Rakyat sendiri dipukuli, petaninya dikriminalisasi, ditembak; mati pula! Nyawa sudah dianggap seperti uap dalam balon mainan anak-anak. Bangsa macam apa ini? Apa memang benar orang-orang macam Pram dan Mulatauli itu mengira; rakyat di sini lebih takut dan ngeri ditindas sesame bangsanya sendiri; kaum pewaris mental feodalistik yang memperbudak dan dihuni ruh kolinialisme yang eksploitatif dan perampok? Alangkah murungnya menjadi rakyat Indonesia sekarang?

Pada titik ini saya hanya bisa meyakinakan; bahwa manusia bagaimna pun memang bukan sekedar buih yang bisa dihempas seenaknya oleh sejarah apa lagi oleh sesame manusia hanya karena beda pangkat “elit” dan “Massa”. Kita mesti lah terus meyakini manusia lah yang musti mengurai dan mengukir sejarahnya. Mesti terus berjuang dan berbuat apa yang bisa, dengan cara yang baik dan sehormat-hormatnya, untuk sesuatu yang ‘hak dan llayak; sekalipun tahu pasti kalah….

Tengok di lapangan agraria, kerusakan structural telah terjadi pada pondasi pokok kehidupan mayoritas rakyat (desa) akibat politik agrarian yang ekspolitatif dalam rentang waktu yang panjang sejak masa colonial. Komplikasi social yang lahir dari padanya sekarang menciptakan kemiskinan agrarian yang akut dan kronis; konflik agrarian main intens, kelompok perempuan makin dipinggirkan dan jadi korban, petani dikriminalisai dan sebagian mati, tanah milik rakyat tidak hanya diambil, tapi dirampas, dengan kekerasa fisik dan hukum pula; regulasi yang berpihak pada kepentingan dan keadilan penguasaan struktur agrarian pun makin hilang arah, mengabaikan rakyat dan memanjakan kalangan pebisnis swasta.
Padahal kita tahu bersama, “Soal Agraria (soal tanah) adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makanan bagi manusia. Perebutan tanah berarti perebutan makanan, perebutan tiang hidup, manusia. Untuk ini orang rela menumpahkan darah, mengorbankan segala yang ada demi mempertahankan hidup selanjutnya.” (Moch. Tauchid, 1952)

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, ditangah zaman politik yang semakin kehilangan maknanya sebagai upaya transformasi kea rah masyarakat yang berkeadailan; di dalam banalitas politik akhir-akhir ini yang muncul dalam bentuk transaksi politik jangka pendek tanpa visi serta debat dan forum-forum ‘bincang-bincang’ politik yang tidak idiologis,–meminjam judul buku Avery Kollers, 2009–kemana gerangan kecenderungan yang sedang dan akan ditarik oleh kebijakan politik kita dari ”Segitiga abadai“ hubungan agraria yang didalamnya terentang ketegangan-ketegangan yang mencakup; land, conflict, and justice’?
jungkir balik ! saya bertanya…

*** Sabiq carebesth, Pimpinan Redaksi Jurnal dan Majalah Agricola Bina Desa, Jakarta.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 43,809 hits
%d blogger menyukai ini: