Aung San Suu Kyi: dari Hary Potter, kebebasan sampai Desmond Tutu

Tinggalkan komentar

Maret 27, 2012 oleh sabiq carebesth

”saya paham hal itu (pemenjaraan) mungkin saja menimpa saya kembali, tapi penjara tidak ada dalam pikiran saya, dipikiran saya adalah rakyat Burma yang harus percaya diri akan kebebasannya.” ujar Aung San Suu Kyi.

Aung San Suu Kyi, pemimpin pro-Demokrasi Myanmar dan Peraih Nobel Perdamaian itu dibebaskan (13/11) setelah 15 tahun menerima hukum tahanan rumah oleh pihak junta Myanmar. Apakah kebebasan itu diberikan merangkumi 100% seperti kebebasan untuk berpidato, mengembara dalam dan luar negara atau kah malah kebebasan untuk keluar negara dan tak diizinkan kembali lagi? Apa yang akan dilakukan Junta. Apapun itu sambutan rakyat pada A.S.Suu Kyi melimpah ruah dan sanjungan serta penghargaan negara bertubi tiba. Semoga Aung San Suu Kyi terus berjuang sebagai wanita besi untuk mendemokrasikan negaranya.
Apa rasanya hidup bebas? Yang jelas anda harus siap membangun disiplin diri sebab hidup bebas adalah keberanian dan keteguhan menentukan apa-apa dengan keputusan sendiri. Termasuk keputusan untuk tidak sama sekali takut bila suatu kali dalam perjuangan demokratiknya mungkin akan dipenjarakan lagi.”saya paham hal itu (pemenjaraan) mungkin saja terjadi, tapi penjara tidak ada dalam pikiran saya.” ujar Aung San Suu Kyi.

Begitulah perempuan pejuang demokrasi itu tak memiliki ketakutan akan hal-hal artifisial menyangkut dirinya sendiri. Yang ia takutkan adalah masa depan rakyat Burma, rakyatnya. “Rasa takut terbesar saya adalah kekhawatiran saya tentang rakyat Burma yang tidak cukup memiliki rasa percaya diri. Mereka seharusnya memiliki rasa percaya diri terhadap diri mereka sendiri. Rakyat Burma harus percaya diri bahwa mereka bisa membuat perubahan dalam hidup mereka. Saya pikir rasa percaya diri ini sedang bertumbuh dan mengalami kemajuan.” ujar Aung San Suu Kyi.

Maka coba dengar kelakar kebebasan pimpinan pejuang demokrasi Burma ini tentang kebebasannya. Dalam kelakar dan tutur ironi perempuan itu menyebut bagaimana melelahkannya hidup bebas. Sebab dalam pikirannya, tidak ada perasaan yang berbeda antara menjadi tahanan dan bebas dari tahanan. Jelas lah ia seorang perempuan yang sangat kuat jiwanya, lapang hati dan cemerlang intelektualitasnya.

Dalam salah satu wawancaranya dengan Maria Rita Hasugian dari Majalah Tempo ia mengatakan ia menikmati kehidupannya dengan kebebasan sepenuhnya karena ia mengambil semua hidup dengan pilihannya sendiri, dengan disiplin yang ia terapkan sendiri. ”Selama menjadi tahanan rumah, saya berpikir bahwa saya bebas karena segala sesuatu yang saya lakukan atas pilihan saya sendiri. Saya juga hidup dengan disiplin yang sangat ketat. Saya sangat suka tinggal dalam kehidupan yang penuh disiplin. Namun sekarang saya jadi orang bebas. Begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan dengan acara-acara yang sudah dijanjikan. Jadi sangat melelahkan menjadi orang bebas (tertawa). Saya mau mengatakan bahwa ini hal baik yang memberi dirimu pengertian bahwa Anda harus membayar harga dari sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan bukan sesuatu yang datang begitu saja.” kata Aung San Suu Kyi pimpinan LND (Liga Nasional untuk Demokrasi) Burma.

Selama 15 tahun menjalani kehidupannya sebagai tahanan rumah, ia menghabiskan waktu dengan merawat rumahnya yang bertambah tua. Lalu kebanyakan waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan siaran radio yang memiliki program acara mengenai Burma, seperti BBC, VOA, Radio Free Asia, dan Democracy Voice of Burma. Ia mendengarkan semua acara yang disiarkan keempat radio itu setiap pagi dan malam. Saya mendengarkan radio hampir enam jam setiap hari. Saat lelah saya mendengarkan radio di dalam kamar dan begitu seterusnya.


Baca Harry Potter untuk cucu

Di sela-sela pemenjaraan rumahnya, Aung San Suu Kyi rupanya membaca buku terkenal zaman ini juga, buku Harry Porter. Tentang buku Harry Potter itu menurutnya karena anaknya yang paling kecil yang memberikan padanya. ”Saya membacanya karena saya memiliki cucu juga sehingga membuat saya ingin tahu buku apa saja yang dibaca oleh orang-orang muda. Saya selalu melakukan hal serupa kepada anak-anak saya saat mereka kecil.” kisahnya.

Menurut Aung San Suu Kyi, tentang Harry Potter, buku itu mengandung juga nilai-nilai universal tentang kebaikan dan kejahatan. ”Jika Anda membaca buku Harry Porter, Anda pasti menerima nilai-nilai universal dalam buku itu: orang percaya bahwa segala yang baik selalu menjadi pemenang atas segala hal buruk. Hal ini membangun keberanian anak-anak bahwa setiap orang yang berbuat kebaikan pasti akan menang. Anda juga akan melihat nilai-nilai universal yang tidak akan lekang oleh waktu, yakni orang-orang percaya pada kebaikan hati, kebijaksanaan, dan keberanian.” tuturnya.

Oleh karena itu Aung San Suu Kyi, menyitir dua orang inspiratir hidupnya yaitu ayahnya, Aung San dan juga Desmond Tutu. Menurutnya, dari ayahnya ia belajar tentang integritas dalam melakukan perjuangan. Sementara dari Desmond Tutu ia belajar artinya memiliki jiwa besar agar seorang dapat menempatkan segala hal di dalamnya untuk melangkah maju. ”meski saya kehilangan ayah ketika masih kecil. Dan ibu saya yang membawa saya untuk menghormati nilai-nilai yang telah diajarkan ayah saya waktu hidup kepadanya tentang integritas. Kemudian saya mendapat inspirasi besar dari Desmond Tutu bukan karena keyakinannya melakukan hal-hal baik, melainkan karena dia memiliki jiwa besar yang membuatnya mampu menempatkan segala hal di dalamnya untuk melangkah maju.” Ujar Aung San Suu Kyi. Maju, Lawan..!!

Kehidupan Pribadi:
•Aung San Suu Kyi dilahirkan pada 19 Juni 1945. Ayahnya, Aung San, merundingkan kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1947, dan dibunuh oleh saingannya pada tahun yang sama.
•Ibunya Khin Kyi (khin kyi ma) memperoleh kehormatan sebagai tokoh politik dalam pemerintahan Burma yang baru terbentuk. Khin Kyi Ma ditunjuk sebagai duta besar Burma di India pada tahun 1960, dan Aung San Suu Kyi mengikutinya ke sana, dan lulus dari Lady Shri Ram College di New Delhi pada tahun 1964. Pada tahun 1972,
•Aung San Suu Kyi menikah dengan Dr. Michael Aris, seorang pelajar kebudayaan Tibet. Tahun berikutnya, ia melahirkan anak laki-laki pertamanya, Alexander, di London; dan pada tahun 1977 dia melahirkan anak kedua, Kim.
•Aung Saan Suu Kyi melanjutkan pendidikannya di St Hugh’s College, Oxford, memperoleh gelar B.A. dalam bidang Filosofi, Politik, dan Ekonomi pada tahun 1989. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di New York, dan bekerja untuk pemerintah Persatuan Myanmar.
•Aung San Suu Kyi adalah seorang aktivis prodemokrasi Myanmar dan pemimpin National League for Democracy (Persatuan Nasional untuk Demokrasi).
•Pada 1991, ia menerima Penghargaan Perdamaian Nobel karena berjuang mempromosikan demokrasi di negaranya tanpa menggunakan kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer.
•Ia dibebaskan secara resmi oleh junta militer Myanmar pada tanggal 13 November 2010 setelah mendekam sebagai tahanan rumah selama 15 tahun dari 21 tahun masa penahanannya sejak pemilihan umum tahun 1990.

***Diolah dari berbagai sumber, By: Sabiq Carebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 43,834 hits