2015, Krisis pangan?

Tinggalkan komentar

Maret 27, 2012 oleh sabiq carebesth

FAO memperkirakan tahun ini sekitar 925 juta warga kekurangan gizi, menurun dari tahun sebelumnya (1,023 miliar). Meski demikian, jumlah warga kurang gizi masih di atas angka sebelum krisis 2008/2009. FAO mencatat tiap enam detik seorang anak mati karena kelaparan.

Krisis pangan mengancam dunia secara global tak terkecuali Indonesia. Kebijakan pembanguan di sector pangan dan pertanian yang lebih memanjakan korporasi dan pihak asing dinilai sebagai biang keladi kebijakan salah arah yang menyebabkan target penghapusan kelaparan sebanyak 50 persen dari jumlah 825 juta pada tahun 2015 oleh FAO pada 1996, bisa dipastikan gagal?

Tak banyak berubah, kelaparan masih menjadi tragedi dan skandal dunia. Dari jumlah warga kurang gizi itu, dua pertiganya ada di tujuh negara (China, Bangladesh, Republik Kongo, Etiopia, India, Indonesia, dan Pakistan). Menurut FAO, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak cukup, bahkan bukan obat mujarab, untuk menghapus kelaparan.

Di Indoensia, sejak negara ini berdiri dan hendak menuntaskan upaya revolusi kemerdekaanya, persoalan pangan khususnya dan ketimpangan reforma agraria menjadi salah satu agenda pokok yang harus dimandatkan secara konstitusional mau pun kultural untuk diselesaikan. Sayang memang, bahwa bangsa ini bagaimana pun pernah, atau masih sampai sekarang; memilih membangun bangsanya dengan cara-cara yang kurang lebih hanya menguntungkan mereka yang memiliki modal, dan lebih parahnya, pemodal asing. Untuk kepentingan mereka pula, agenda Refoma Agraria malah terabaikan, tersandera dan terlunta. Persoalan makan tak jarang dikungkung dalam nalar moral yang manipulatif dan perlahan-lahan menggerus kemandirian pangan rakyat.

Ironis, kini tidak hanya orang per orang, tapi negara antar negara berebut klaim tentang ”siapa yang lebih berhak makan lebih banyak!?” sesatir itukah persoalan hak atas pangan? Faktanya Bung Karno pada 1952 menyebut urusan pangan dan pertanian adalah soal hidup atau mati suatu bangsa. Mantan Presiden Amerika G.W Bush pada tahun 2004 menyatakan bahwa agricultural and food security adalah persoalan national defense and security. Demikian lah…

*****
Masih segar dalam ingatan kita pertemuan PBB di Roma membahas krisis pangan dunia beberapa tahun lalu. Tentu kita mengingat, munculnya komentar pejabat Pemerintahan Bush yang menyebut krisis pangan dunia dipicu oleh bertambahnya kelas menengah dan kemakmuran India, dari India muncul bantahan sengit. Salah satunya dari Pradeep Mehta, Sekjen CUTS Center for International Trade, Economic, and Environment (IHT, 14/5). Mehta mengatakan, problem pangan ”jelas” diciptakan oleh orang Amerika, yang menyantap kalori 50 persen lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata orang India. Jadi, daripada menyalahkan India dan negara berkembang lain, lebih baik orang Amerika memikirkan kembali kebijakan energinya dan berdiet. Tak cukup sampai di situ, pengkritik India itu malah mengangkat pertanyaan mendasar, ”Mengapa orang Amerika mengira mereka berhak makan lebih banyak daripada orang India?”

Dari tragedi dan intrik itu tentu saja kita bisa mengira betapa urgennya persoalan pangan dan krisis pangan. Hal itu lebih dari persoalan moral tentu;”Manusia memang tidak hanya hidup dari perut saja.” Ya,–menyitir Sindhunata dalam catatannya di Basis—kritik itu tepat buat mereka yang sudah kenyang dan tak berkekurangan. Tapi kritik itu sama sekali tidak berlaku bagi mereka yang lapar. Bagi mereka yang lapar, perut adalah nomer satu. Kalau tidak, mereka akan mati. Iangat lah, jika dalam perut itu ada kelaparan yang mudah marah. Jika amarah dari perut itu meledak, negara ini sungguh berada dalam keadaan yang amat bahaya. (Basis:Amarah Dari Perut)


Kesalahan 20 tahun terakhir

Kemelut pangan global kini memunculkan opini soal kesalahan kebijakan global, yang sudah tertanam lama. Ahli terakhir yang pernah menyampaikan sejauh kita ingat adalah Oliver de Shutter, warga Prancis yang menjabat sebagai penasihat Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang pangan.
Schuter dalam wawancara dengan harian Perancis La Monde, mengatakan, krisis pangan yang melanda dunia global sekarang ini adalah buah dari kesalahan kebijakan yang sudah berlangsung selama 20 tahun, sebuah kebijakan yang dicanangkan kekuatan dunia.
Schutter mengatakan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) bertanggung jawab karena mereka menyepelekan pentingnya investasi di sector pertanian. Salah satu contohnya adalah desakan kedua lembaga tersebut kepada Negara berkembang untuk menghasilkan komoditas berorientasi ekspor, dengan mengabaikan kedaulatan pangan.
Pernyataan Schutter ini sangat mengena dengan kasus Indonesia, yang setelah krisis 1997, Indonesia dipaksa memenggal kekuasaan Bulog. Akibatnya, terjadi kekacauan menajemen padangan karena semuanya diserahkan ke sector swasta. Bagi persoalan pangan, terutama beras, sistem logistik bukan hanya strategis, tetapi juga bisa berdampak politis. Bulog pernah menjadi pengumpul dan pendistribusi pangan yang andal untuk stabilisasi harga di tingkat konsumen dan produsen, tetapi setelah 1998 peran tersebut hanya diizinkan untuk beras. Belakangan, peran tersebut juga tak berjalan baik, terlihat dari gejolak harga yang melambung tinggi dan tingkat import beras yang mencapai i juta ton lebih.
Sekarang kita kita faham, pengabaian urusan kebutuhan pokok Indonesia dengan pembuburan Bulog telah membikin rakyat termiskin mengap-mengap.

Di samping itu, komersialisasi pertanian, dorongan investor besar untuk terjun di sector pertanian, telah mengabaikan kepentingan rakyat banyak di seluruh dunia. Semua yang diproduksi adalah komoditas ekspor, bukan berbasis kebutuhan rakyat dinegara berkembang.

Schutter mencanangkan agar dunia ini kini siap dengan tatanan dunia baru, ditandai dengan berakhirnya era pangan murah. Menurutnya, kegagalan mengantisipasi krisis pangan sekarang adalah sebuah keadaan yang tak bisa dimaafkan. Namun kegagalan dalam 20 tahun terakhir ini, atau setidaknya sejak 1978. “Kita telah membayar mahal atas kesalahan selama 20 tahun. Tak ada yang dilakukan untuk mencegah spekulasi di bursa komoditas atas kemoditas pertanian, meski sudah diprediksikan bahwa investor akan berpaling ke komoditas pertanian jika saham mengalami kelesuan.” Kata Schtter.

JIM O’neil di situs The Wall Street Journal menyebut krisis pangan juga disebabkan oleh meningkatnya permintaan akibat konsumsi pengan Negara-negara dunia, disamping ulah spekulan di pasar komoditas, dan juga konversi biji-bijian ke biofuel.

Dan sekarang? Tarikan perdagangan komoditas berjangka, perubahan iklim global, dan sikap hati-hati negara-negara di dunia pasca krisis pangan, menambah runyam analisa dan kondisi.
Pada 2001- 2009 terjadi perubahan arus pangan di pasar global. Tingkat stok padi-padian dan serealia menurun daripada tahun 2000 sehingga pasar rentan guncangan.

Sementara kelebihan likuiditas cenderung mencari diversifikasi dari aset keuangan ke komoditas, termasuk padi-padian. Di sisi lain, konsumsi jagung juga meningkat karena berkembangnya kebutuhan terhadap biofuel.

Pilihan menjadikan komoditas sebagai instrumen investasi meningkat drastis. Hanya dalam kurun 2003-2008 investasi pada dana indeks terkait komoditas tumbuh 20 kali lipat, yakni dari 13 miliar dollar AS menjadi 260 miliar dollar AS.

Dari sisi produksi, kementrian Pertanian menyebut pertumbuhan produksi padi-padian hanya 3 persen per tahun. Bahkan pakar Strategi dan Kebijakan untuk Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Christopher Delgado menyebut lima tanaman pangan utama Afrika tahun 2050 ditengarai yang 95 persen produksinya bakal turun lebih dari 7 persen. Adapun 5 persen tanaman pangan lainnya turun hingga 27 persen.
Belum lagi kendala yang bakal dihadapi pada masa datang adalah kelangkaan air serta terbatasnya lahan pertanian, kecuali di beberapa tempat di Afrika dan Asia Tengah.

Mantan ketua FAO Jaques Diouf, mengatakan bahwa pemimpin dunia telah mengabaikan peringatan FAO, yang disampaikan pada dekade 1980-an. Pada dekade itu FAO sudah memperingatkan akan terjadi katastrofe pangan. Alasannya, disemua negera berkembang hanya tersedia stok pangan untuk delapan hingga 12 pekan saja. Pasokan biji-bijian juga sudah berada pada tingkat terendah sejak 1980-an. Namun industrialisasi pertanian, yang didorong untuk tujuan komersiaslisasi, malah dipergencar.

Tanda-tanda zaman kegelapan!!

Ketika reformasi bergulir 13 tahun lalu, persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat merupakan salah satu agendanya. Apa yang kita capai kini?

Paling menonjol ialah tumpukan utang negara, tumbukan beras ‘import’ jutaan ton, sementara kekayaan sumber daya alam kian terkuras dan pajaknya yang rendah pun amblas. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin melebar, antara sesame miskin menjalar. Kantong kemiskinan nun lapar membengkak, penyelenggara makin rakus korupsi, mana tahan revolusi?

Pada sektor pertanian, kepentingan mayoritas penduduk, dan seharusnya keunggulan bangsa Indonesia, pergantian rezim berkali kali sejak 1998 mencanangkan revitalisasi pertanian. Di sektor usaha kecil dan menengah dipancangkan bendera kebangkitan karena UKM dianggap sebagai jawaban atas tumbangnya sebagian korporasi yang memicu krisis dan kesengsaraan. Sayangnya, program konkret dengan dukungan penuh serta pengawalan ketat kebijakan itu lemah implementasinya. Selalu lepas tangan!

Apa yang sudah dilakukan, belum banyak yang dilakukan, krisis pangan dan energi datang lagi seperti saat ini. Dan lagi-lagi kita pontang-panting, akan panik karenanya. Apalagi krisis energi kali ini bersamaan sejalan dengan krisis pangan yang kalau tidak di urus dengan serius, 2015 bukannnya target Milenium Develoment Goul (MDGs) yang tercapai, tapi justeru sebaliknya, mencapai kelaparan total; amarah dari perut yang menjadi tanda-tanda zaman kegelapan!!

***Maret 2011, Sabiq Carebesth, pemimpin redaksi dan jurnal Agricola Bina Desa, Jakarta.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 46,833 hits