Puisi Untuk Puisi

Tinggalkan komentar

Maret 22, 2012 oleh sabiq carebesth

“Puisi untuk puisi”
Dimana puisi yang itu

Yang dulu kau tulis disenja hari

Saat sepi

Dengan harapan yang meninggi

Usai menggambar jendela

Dalam tembok pengap nan hampa

Puisi yang melihat kemungkinan

Tentang kehidupan yang bermahkota kebebasan

Seolah surga pertama dihadapan

Dan kenyataan bertampik

Tidak lebih dalam dari puisi yang itu

Yang dulu bermahkota kematian

Namun menunjukan jalan panjang

Yang kau bebasa menyusur

Walau sepanjang jalan dalam kegelapan

Puisi tidak punya mata

Untuk memilih kata-kata

Puisi tidak punya telinga

Untuk mendengar bisikan kelana

Puisi tidak punya kekuatan

Untuk menerjemahkan sabda langit

Puisi tidak punya kuas dan kanvas

Untuk melukis keindahan

Puisi adalah kekosongan

Dalam beratnya kefanaan

Gambar dari luka peradaban

Yang urung menghilang

Tanpa sebaris pun kenangan

Puisi adalah musim waktu

Memoria agar hidup tak jadi gila

Sebab bertaruh masa depan

Dalam kekosongan tanpa ingatan

Puisi adalah zaman

Puisi adalah ingatan

Museum bagi jiwa yang kehilangan

Waktu yang menjelma kenangan

Agar tak musnah dalam kegilaan

Dari zaman yang gemar lupa

Puisi adalah senandung

Dari kidung keheningan

Paling sunyi dan rahasia

Puisi adalah tarian

Dari kelelahan

Usai rindu dan kehilangan

Puisi adalah persembunyian

Dari kebermaknaan yang terancam

Oleh omong kosong dan rayuan

Dari pemuja kesombongan

Dan kedangkalan

Puisi adalah doa

Yang urung terlafaldzkan

Oleh ketidakberdayaan

Puisi adalah kebohongan

Dari kemerdekaan yang terpasung

Oleh kebodohan dan ketakutan

Puisi adalah suara-suara

Yang teredam

Oleh bising kota

Dalam riuhnya lagu disko

Dalam gemuruhnya seruan

Dan kebohongan

Puisi adalah jendela kecil

Dalam kehampaan tembok

Yang memenjaramu dalam kebimbangan

Dari rasa hampa yang menimpa

Oleh puisimu sendiri

Yang begitu sunyi

Puisi adalah puisi

Kawan bagi kematian

Yang begitu sunyi

Esok hari masihkan kau menulis puisi?

Atau senja nanti ingkar janji

Sembunyi dalam puisi-puisi….

Jakarta, 08 mei 2010


“Monolog Kesunyian”

Ah….

Jangan terlalu percaya;

Rasa nikmat dari senggama kata;

Yang ingin melahirkan kata

Dari keabsurdan paling serupa kekosongan.

Orang gila yang menari di sore hari

Dalam segelas kopimu;

Dalam baris kata tak ter eja;

Kalau dia pergi kau yang gila;

Menari sendiri

Dalam menuang kopi di pelupuk mata jiwa

Kudengarkan monologmu

Jangan ingkar janji

Bila berhenti berlari

Puisi-puisimu kan menari di ujung hari

Menggali liang lahat

Bagi kematianmu;

Zamanmu!!

Jakarta, 08 mei 2010

Sabiq carebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 44,765 hits
%d blogger menyukai ini: