Kereta Malam

Tinggalkan komentar

Maret 22, 2012 oleh sabiq carebesth

Ia seorang laki-laki kurus pucat yang terlihat lebih tua dari usianya yang 23 tahun. Selama ini orang-orang yang mengenalnya tahu, hal paling ia sukai dan selalu menjadi tempatnya berlari adalah stasiun kereta. Ia menyukai baunya, menyukai kehidupan di dalamnya. Dan tanpa pikir panjang ia akan naik sebuah kereta ekonomi dan melesat melewati stasiun-stasiun tanpa tujuan. Semua itu selalu ia lakukan ketika malam hari. Ia tak pernah dan tidak suka menempuh perjalanan kereta di siang hari. Dan tidak siapapun dengan persis tahu alasannya.

Baginya bukanlah hal rumit bahwa ia tanpa karcis harus menghadapi polisi kereta—kondektur selalu bisa di urusnya karena dia sangat akrab—bertampang sangar dan membutnya selalu merasakan kengerian yang sangat. Suara sepatu laras yang menginjak lantai kereta selalu terasa baginya seperti sepatu itu di injakkan ke jantungnya.

Laki-laki itu yang memiliki mata yang memesona dan menjinjing selalu buku-buku tua, melakukan aktifitas absurdnya tatkala terasa baginya kegundahan dan rasa muak pada kota yang tengah ditinggalinya. Jika sudah begitu, kereta malam ibarat kereta kencana yang akan membawanya dengan suatu perasaan istimewa kesuatu tempat asing yang dihasratinya.

“Aku akan pergi ketempat yang bisa menerimaku.” Begitulah selalu katanya. Dan selalu tak seorang pun yang bisa sungguh-sungguh mengerti apa yang dimaksudkan pikirannya. Bahkan dirinya sendiri pun mungkin tidak.

Ia seperti seorang yang tidak berjalan di bumi; ia hanya menurutkan pikirannya. Maka segala aktifitas dan reaksi fisiknya sangat digantungkan pada kemelut yang di bikin otaknya.

“Aku sering merasa diriku seperti kuda yang berjalan mondar-mandir dan bingung dengan diri sendiri.”

Ia pernah bicara hal itu padaku. Di suatu kesempatan yang bisa; ketika ia menenggak alkohol berbotol-botol. Entahlah. Tapi aku ingat saat itu mencoba bicara dengan penuh perhatian padanya.

“Sebaiknya kau mulai memikirkan dirimu sendiri. Menurutku, dan ini pasti akan terdengar aneh dan naif bagimu; sepertinya kau butuh seorang yang bisa mengurusmu, istri misalnya?” ujarku ketika itu.
“Istri?” sergahnya dengan nada sinis yang bisa. Aku faham apa yang ingin dikatakannya selanjutnya. Dan benar saja,
“Perempuan? Itu perkara nihilistik….” Ujarnya dengan suara terjaga.

Tapi biar demikian, aku toh tahu ia pernah begitu mencintai seorang perempuan, tidak tanggung-tanggung, laki-laki jalang dan pemabuk sepertinya, namun gadis yang dicintainya adalah seorang jelita yang shaleh, anak kyai dan hafidzoh.

Nasib waktu tidak akan jauh-jauh. Akibat masa silam menimpanya juga.

“Seniman. Tak tahu agama. Komunis!!!”

Itulah maki caci yang ia terima dari orang-orang yang melingkari gadis jelita itu. Balasan atas cintanya yang begitu murni.

“Aku menulis puisi tentang orang yang lapar, dan mereka katakan aku komunis. Aku menulis sajak kebengisan pada manusia-mansuia konkrit itu; dan aku juga dibilang komunis. Mungkin saja, bahakan bila dengan hatiku yang paling dalam aku bilang aku rindu bertemu Nabi dan Tuhan; aku juga akan tetap saja dibilang, KOMUNIS. Sudah nasibku jadi kambing hitam lagi pongah….”
“Apa kau bilang pongah?” tanyaku.
“Ah, kau saja kan tahu, mana aku baca buku Karl Marx itu? Aku hanya pernah lihat fotonya, aku kira malah di seorang musisi Rock.!!” Balasnya.

Setahuku memang ia menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan membca buku dan menulis, sampe-sampe hal itu membuat otaknya kering dan ia rasanya sudah setengah tidak waras, tapi aku memang tidak pernah melihatnya mengandut buku bapak Komunis itu. Aku sendiri sering merasa heran dengan nasibnya. Bukankah malah aku yang setiap hari membaca dan mangandut buku itu? Perbedaannya hanya aku tak pernah menulis atau bicara hal istimewa seperti kemempuan yang dimiliki kawanku itu. Yah, aku bukan ahli retorik dan juga aku tidak bisa menulis; tidak pernah.

Sekarang aku rasa, kawanku itu tidak akan bernasib demikian kalo ia tidak gemar menulis. Bakat istimewa yang membuatnya diam-diam begitu dicintai orang-orang yang mengenalnya. Ia adalah sahabat dan guru yang sangat baik; khususnya buatku.

Ah, tapi itu tiga tahun yang lalu. Sekarang aku tidak tahu nasibnya lagi. Aku sendiri sudah lebih baik dengan kehidupanku. Aku seorang wirausaha dengan lembaga dan yayasan penerbitan yang bonafid di kota pelajar ini. Dan jika aku ingin membagi kesuksesanku sekrang, aku sangat ingin membagi dengan kawanku itu. Sang Jenderal kecil—begitulah ia senang di panggil. Katanya itu kebiasan ibunya memanggilnya waktu kecil.

*********

Malam ini aku akan pergi ke Jakarta untuk acara pameran dan bedah buku. Dalam hatiku ingatan dan keinginan untuk bertemu kembali dengan Jenderal Kecil tak pernah pupus. Aku ingin membagai kabar bahagia; aku sudah punya usaha, istri dan seorang anak gadis mungil yang jelita. Maka tak kubiarkan perjalanan ke Jakarta kali ini tanpa niat dan harapan bertemu dengan kawanku yang gemar dengan malam dan stasiun kereta.

Aku sengaja pergi dengan kereta malam, kereta ekonomi, dan harapanku sangat besar menemukannya di sana; apapun keadaannya sekarang; apapun nasib dari bakat dan kecerdasannya.

Kereta melaju dari stasiun lempuyangan di awal malam, ketika senja petang tadi belum sepenuhnya sirna di telan rembulan benderang malam ini.

Aku awasi selalu keadaan, melihat kesana kemari keseluruh penjuru mata angin tanpa henti; sampe mata dan tubuhku pegal sebelum perjalanan kereta ini mulai.

Di dalam kereta aku duduk dengan gusar setelah menyusuri seluruh gerbong kereta. Tak kulewatkan secuilpun keadaan terlewati tanpa pengamatanku. Aku lihat wajah setiap orang, aku intip semua stasiun pemberhentian; mungkin ia pengamen, pengasong, atau pengemis, apapun aku berharap melihat wajahnya kembali.

Usahaku akhirnya sia-sia saja ketika mentari pagi menyilaukan kedua mataku yang terasa tegang karena semalaman tak terpejam. Kereta tiba di Jatinegara, masih kucari, kuamati; dan masih semua usahaku sia-sia. Usahaku melelahkanku saja.

Tapi di atas semua itu aku mulai dapat mengerti kenapa ia begitu menggemari perjalanan kereta malam dan stasiun-stasiun pemberhentian yang dilewatinya. Aku sekarang bisa tahu betapa semua itu adalah dunia kecil yang nyata. Aku tahu bahwa ia sudah bersaksi sebenar-benarnya atas nama kenyataan; kemiskinan dan kenistaan banyak menusia. Aku tahu, sajak dan puisi-puisinya adalah warta kebenaran. Aku tahu, ia sudah menunaikan yang wajib dari seni dan kehidupan; mengatakan kebenaran, itu saja.

*****

Setelah harapanku hampa, Jakarta pun jadi seketika terasa hanya kekosongan tanpa ramai yang menyanangkan. Itulah buah dari rasa prustasiku atas harapanku yang memuncak pada pertemuanku dengan Jenderal Kecil.

“Apa yang kuharapkan di sini?”

Tidak ada, jawabku sendiri.

Dan siangnya aku tanpa ragu sedikitpun melesat pulang kembali ke Yogyakarta. Dan masih tersisa harapanku, kususuri gerbong, duduk termangu, mengamati semuanya yang masih bisa dijangkau padangan mataku. Dan hasilnya sama saja!!

Aku duduk sebentar di peron stasiun Lemuyangan, masih tersisa sucuil lagi asa dan harapku. Tapi hasilnya tetap tidak berubah. Sampai seorang yang kupercaya menjemputku, tak sedikit pun kulihat tanda dan isyarat aku akan menemu takdirku bertemu dengannya kembali.

“Semalam seorang kurus pucat dan tak mau menyebutkan namanya menunggu bapak di kantor. Setelah tahu bapak di Jakarta, ia tak menunda waktu dan melesar pergi tanpa pamit dan pesan. Laki-laki dengan mata tajam itu hanya meninggalkan bungkusan untuk bapak.” Kata orang kepercayaanku.

“Ya Tuhan…..”

Hatiku seketika keluh, meronta dan lelah. Bimbang dan putus asa merajaiku dalam tanya pada Tuhan atas nasib kami berdua. Aku tak harus menanyakan apa-apa lagi, aku tahu sang Jenderal Kecil yang menemuiku. Ia masih hidup?

Aku tak bisa memikirkan apa-apa lagi. Aku langsung minta laki-laki paruh baya dihadapanku ini mengantarku ke kantor. Sekali ini aku tak ragu istri dan anak-anakku akan memaafkanku untuk hal ini. Istriku adalah gadis jelita anak sanga kyai yang begitu dicintai kawanku Jenderal Kecil—dan ia pun sangat mencintai ksatria hatinya itu. Dan pernikahan kami hanya usaha dilematis dari potongan nasib sang Jenderal Kecil. Bahkan bila ia meminta semua kebahagiaan ini dariku; aku tanpa ragu akan memberikan semuanya.

Aku membaca naskah itu lembar-demi lembar, sampai semua kulalap habis dengan hatiku yang teriris.

Aku baca suratnya dilembar terakhir naskah tulisannya itu:
Aku rela dan percaya menitipkan semua kebahagianku di pangkuanmu. Jagalah semuanya baik-baik. Kau tidak usah mencariku, aku dekat selalu denganmu; hanya kau tidak akan bisa melihatku. Demi masa lalu dan persekawanan yang pernah kita lewati, aku hanya ingin kau menerbitkan buku ini; kecuali kau takut setelahnya uangmu hangus sia-sia dalam lembar-lembar bukuku yang dibakar……

Aku tertegun, tersedu menahan tangis. Ikut lara hatiku menahan luka-luka sejarahnya. Dan seperti kulihat bayangan wajahnya berkelebat, bibirku bergumam mantap; kebenaran tak akan habis karena dibakar…..

sabiq carebesth
Yogyakarta; 04 September 2009
sumber tulisan; http://oase.kompas.com/read/2010/01/29/20162092/Kereta.Malam

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 44,768 hits
%d blogger menyukai ini: