“PEREMPUAN DAN AGENDA REFORMA AGRARIA BERPERSPEKTIF ADIL GENDER”

Tinggalkan komentar

Maret 20, 2012 oleh sabiq carebesth

John F. Kennedy, dalam God Without Religion; Questioning Centuries of Accepted Truth karangan Sankara Saranam mengatakan musuh terbesar kebenaran sering kali justru bukan tindakan dusta (yang dilakukan dengan segala pertimbangan, dibuat-buat serta tidak jujur) melainkan mitos yang bertahan terus, persuasive dan realistis. Sangat sering orang berpegang teguh pada kata-kata klise yang dibangun oleh nenek moyangnya.

1.Latar Belakang
Perempuan Dan Produksi Kultural dalam Lakon “Survival Of The Fittes”
Selama ini gerakan reforma agraria di Indonesia lebih bernuansa publik sementara kebudayaan kita masih mengamini bahwa urusan publik adalah sepenuhnya urusan kaum lelaki. Apakah ini terkait dengan anggapan umum bahwa persoalan agraria masuk dalam dunia lelaki, sebagaimana anggapan bahwa persoalan mempertahankan hidup adalah urusan kaum lelaki?

Gerakan reforma agraria dimengerti oleh para aktivisnya sebagai suatu gerakan kelas rakyat petani tak bertanah melawan negara yang kebijakannya timpang – pro kapitalis – sehingga merugikan kepentingan ekonomi dan politik mereka. Di dalam kelas rakyat petani tak bertanah itu diandaikan terdapat kerja sama yang harmonis dan saling mendukung antara kaum lelaki dan kaum perempuan. Oleh sebab itu tidak terlalu keliru pengandaian mereka sekiranya perempuan dan lelaki berjuang bersama-sama melawan kebatilan negara yang pro kapitalis. Ditengah kondisi semcam itu kita kemudian dihadapkan pada dua persolan sekaligus; emansipasi perempuan terhadap lelaki dan juga emansipasi rakyat terhadap negara yang pro kapitalis.

Pertumbuhan ekonomi ala (wealth of nation,red) kaum liberal/neo liberal di akaui atau tidak memuculkan sekaligus mengukuhkan adagium siapa yang kuat dia yang bertahan (Survival of the fittes), yang lemah hanya boleh berharap dari kemungkinan moral bahwa yang kuat akan membagikan sedikit dari perolehan untung dan monopoli yang dia miliki—Trickle Down Effect–sementara di sisi yang lain sistem kultural dan reproduksi kultural di sini bagaimana pun masih di pahami mayoritas bahwa perempuan lebih lemah dari pada laki-laki.

Dalam struktur mode produksi ekonomi yang berpegang pada prinsip “Survival of the fittes” yang egosentris, individualistik dan cut tharot competition, perempuan tidak pernah dipandang dan diberi tempat dalam sebuah ruang dimana kebutuhan khusus dan kekhasan perempuan di akui sebagai sebuah nilai lebih pada dirinya sendiri; ruang eksistensial perempuan yang khas dan khusus yang tidak segera dilihat sebagai sesuatu nilai yang berada dalam dirinya sendiri mengakibatkan keadaan oligarkis dalam simulakrum relasi gender laki-laki dan perempuan menjadi mengamini menempatkan perempuan sebagai sub ordinat dari laki-laki.

Dalam perkembangannya kendati pun perempuan tampak memiliki berbagai peran dalam kehidupan sosial ekonomi sehari-hari, eksistensi kaum perempuan nyatanya masih lebih ditempatkan sebagai, meminjam istilah Foucoult—tubuh yang rasis—di mana perempuan hanya digunakan masih sebagai objek. Tubuhnya adalah komoditas yang bersifat objek bagi subjek sebuah nilai ekonomis. Misalnya perempuan adalah-tubuh objek- paling mudah bagi suatu iklan sebuah produk. Dalam konteks itulah sesungguhnya peran perempuan pada dunia kapitalisme lanjut ini hanyalah sebatas penyeimbang yang justeru memang dibutuhkan oleh pasar neoliberal. Jelas sekali tampak bagaimana perempuan nilai kerjanya selalu dihargai lebih murah dari pada laki-laki (lihat di parbirk dan buruh tani di desa-desa, gaji perempuan selalu lebih rendah dari pada laki-laki)

Kenapa perempuan menjadi penting untuk dibincangkan sebagai sebuah realitas dassain dimana apa yang seharusnya kemudian seringkali harus menjumpai realitas das sollen yang menempatkan perempuan dalam sebuah ruang bebas; ruang bebas ini kemudian dengan mudah diartikan sebagai ruang penyeragaman antara laki-laki dan perempuan. Penyeragaman tersebut kemudian menghilangkan karakter khas dan khusus perempuan. Hal berikutnya yang terjadi dari penyeragaman ini adalah pengabaian atas realitas dassain perempuan sebagai dirinya sendiri—yang khas dan yang khusus—hal ini berakibat pada suatu fase lebih lanjut dimana perempuan mengalamai pengabaian-pembuangan (ignorisme) dari struktur mode produksi ekonomi yang pada fase berikutnya juga menentukan mode kesadaran (perempuan itu sendiri) diantara kondisi sosial yang menindasnya.

Keadilan agraria bagi kaum perempuan kemudian menjadi lebih sulit diwujudkan ditengah mode ekonomi dan produksi kultural yang kapitalistik dalam gerak laju neo liberalisme. Di mana pada dasarnya Neo liberalisme memang berkepentingan melanggengkan kelas-kelas sosial dalam kondisi ketimpangan gender dalam masyarakat.

Pilihan model kebijakan yang mengkapitalisasi sekotr-sektor agraria melalui program penyesuaian structural (SAPs) dari Bank Dunia dan IMF yang mensyaratkan deregulasi, privatisasi dan liberalisasi untuk menyesuaikan dengan mekanisme pasar bebas, telah mentransformasikan pedesaan yang sebelumnya menjadi lumbung pangan bergeser menjadi lumbung kemiskinan yang ditinggalkan oleh penduduknya. Data menunjukkan wilayah pedesaan menyumbang sekitar 63% dari seluruh penduduk miskin di Indonesia. Bahkan, dari sekitar 65.554 desa di Indonesia, 51 ribu desa merupakan desa tertinggal, 20.633 diantaranya tergolong desa miskin. Selain itu perombakan struktur agraria di daratan dan pesisir-kelautan telah mendorong terjadinya migrasi komunitas pedesaan ke wilayah urban untuk menjadi buruh murah atau menjadi buruh migran. Dan revolusi hijau selama kurun rezim orde baru dalam sejarahnya adalah salah satu actor utama dari kebijakan yang makin meminggirkan perempuan dari akses dan control sumberdaya agrarian khususnya pertanian pangan.

Oleh karena peminggiran-peminggiran tersebut, berkaitan dengan migrasi/urbanisasi perempuan menempati jumlah terbesar yang angkanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 1994 jumlah buruh migrant sebesar 175,187 terdiri dari 42,893 laki-laki dan 132,354 perempuan. Sedangkan pada tahun 2007, jumlah buruh migrant sebesar 696,746 terdiri dari 152,887 laki-laki dan 543,859 perempuan. Dalam kurun waktu 1994-2007, jumlah buruh migrant sebesar 5,624,097 terdiri dari 1,479,063 laki-laki dan 4,145,034 perempuan. Sebagian besar buruh migrant berasal dari desa-desa wilayah konflik agraria (Migrant Care, 2007), dan jumlahnya akan terus meningkat yang diproyeksikan akan mencapai 68 persen pada tahun 2025.

Diskriminasi terhadap perempuan ini dilanggengkan dalam masyarakat melalui kelembagaan-kelembagaan desa yang tidak memberikan tempat kepada perempuan untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan. Keanggotaan dalam organisasi/kelompok berdasarkan kepala keluarga telah secara serta merta membatasi perempuan untuk terlibat dalam organisasi karena kepala keluarga adalah laki-laki. Ada dua hal yang seringkali menjadi alasan untuk tetap mendiskriminasi perempuan; 1) perempuan tidak pernah menghasilkan sesuatu yang hebat dan; 2) perempuan tidak pernah dihalangi untuk mengembangkan kepribadian feminin yang agung.

Perempuan pedesaan yang semula menjadi tulang punggung pengelolaan agraria dengan pengalaman dan pengetahuannya dalam memproduksi pangan secara berkelanjutan harus tergusur dalam model pembangunan seperti ini. Mereka tak lagi dapat berkerja di sawah karena seluruh kebutuhan bertani telah dicukupi oleh industri pertanian dengan tenaga kerja lak-laki. Warga pedesaan banyak yang kehilangan mata pencahariannya karena terjadi konsentrasi kepemilikan lahan oleh pemilik modal. Struktur penguasaan tanah bergeser yang semula sebagai pemilik tanah berubah menjadi buruh (ditanahnya sendiri).

1.2 Perempuan Dan Pangan

Sementara itu di pedesaan ketidak adilan pada perempuan di lapangan pertanian dan pangan sudah bukan rahasia lagi walau lebih sering seperti tertutup tabir labirin yang membuat analisis dan penglihatan klasifikasi sosiologis seringkali menajdi kabur kalau tidak malah tersesat.
Padahal, perempuan, khususnya di desa, berperan penting dalam empat pilar kedaulatan pangan, yakni sebagai produsen dan wira usaha pertanian, penjaga kedaulatan pangan yang mencurahkan waktunya untuk mengelola pendapatan dan konsumsi rumah tangga, pengelola penyediaan pangan saat kondisi ekonomi sulit.
Sebagai contoh di lumbung Dowaluh, Bantul. Di lumbung ini petani perempuan terlibat dalam seluruh proses dan kegiatan. Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lumbung pangan sangat besar. Selain itu perempuan memiliki peranan yang besar sebagai pemimpin bagi proses pendidikan pangan. Namun sekali lagi sangat disayangkan hampir semua kebijakan disektor pertanian bias laki-laki dan kental nuansa korporasi-kapitalistik.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2006, menyebutkan jumlah petani perempuan mencapai 55,2% sedangkan petani pria hanya 46% menunjukan Perempuan memiliki peranan penting dalam menyediakan pangan bagi 237 juta jiwa penduduk Indonesia. Namun ironisnya, misalnya dalam praktek-praktek penyerobotan lahan milik rakyat, petani perempuan menempati posisi yang paling dipinggirkan. Padahal secara historis, peran perempuan dalam dunia pertanian sangatlah besar. Justru dengan campur tangan rezim orde baru, sektor pertanian pangan telah meminggirkan kehidupan perempuan dari pertanian. Perempuan tidak mempunyai akses dan kontrol terhadap tanahnya, kepemilikan tanah diutamakan kepada laki-laki dan perempuan hanya menjadi pengelola tanahnya dan tidak jarang perempuan hanya sebagai buruh dengan upah yang sangat kecil.

Sementara itu perempuan nelayan pada masyarakat pesisir dan kelautan memiliki kontribusi sebesar 48 persen untuk pendapatan keluarga tiap bulannya. Tampak betapa strategisnya perempuan di daerah pesisir berpeluang mengubah keadaan krisis. Sayangnya, peran perempuan nelayan tidak diakui dalam konteks kebijakan pengelolaan sumber daya perikanan yang masih sangat bias gender. Ketidaksetaraan gender dalam masyarakat dan bertambahnya beban akibat dampak pembangunan menjadikan perempuan di pesisir sulit keluar dari keterpurukannya. Padahal perempuan nelayan memiliki peranan penting dalam hal ketahanan pangan. Riset lembaga KIARA (Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan) menyebutkan 85% waktu perempuan nelayan digunakan dalam kegiatan memproduksi, mengolah, dan mendistribusi produk perikanan.
Saat ini fenoemena perubahan iklim sebagai salah satu dampak gegalnya ekonomisme industri kapitalis dalam menjaga ekologi dengan sumbangan emisi gas dan efek rumah kacanya berubah menjadi salah satu momok paling menakutkan bagi ketahanan pangan. Dampak iklim berubah yang berpengaruh terhadap tidak menentunya angin dan ombak di lautan, telah membuat masyarakat nelayan kesulitan menjaring ikan. Hal itu kini menjadi salah satu sumber dari dampak sosial terhadap perempuan nelayan. Persoalan tersebut memperparah ketidaksetaraan dalam relasi gender antara kaum laki-laki dan perempuan. Semua itu mengacu pada akses sumber daya, informasi, mobilitas, dan proses pembuatan kebijakan. Dan di tengah situasi cuaca ekstrem, kenaikan harga bahan pangan dan langkanya bahan bakar di desa-desa pesisir, para perempuan adalah tumpuan harapan masyarakat untuk menjaga pangan dan keberlanjutan kehidupan.

1.3 Keyakinan Umum Tentang Hubungan Perempuan-Lelaki
Ketidak adilan gender di antaranya bersumber dari ketidak mampuan perempuan dan laki-laki untuk melepaskan diri dari tradisi (adat istiadat yang hegemonic kaku dan apa lagi untuk berubah), dan juga dogma dan doktrin agama (yang lahir dari intrepretasi baru dalam sistem kekerabatan dan perkawinan). Sikap mental chauvinistik sering akan menjadi penghalang utama bagi setiap upaya membuka kesadaraan perempuan (dan lelaki) akan adanya ketimpangan gender yang merugikan mereka (terutama perempuan). Walau pun sesungguhnya sikap semacam itu adalah sebentuk frustasi dalam wajahnya yang lain.
Selama ini orang yakin bahwa perempuan dengan sendirinya akan sejahtera bilamana ketergabungan antara lelaki dan perempuan mencapai kesejahteraan. Pertanyaan adalah: pertama, sejauh mana keyakinan ini teruji kebenarannya di lapangan (atau sebenarnya tidak lebih dari suatu takhayul yang disucikan)? Kedua, dengan cara bagaimana keyakinan ini hidup (berkembang) dalam benak kita?

Keyakinan sebagaimana disebut di awal paragraf ini mengandaikan seolah-olah tanpa penggabungan dengan lelaki maka perempuan tidak akan mencapai kesejahteraan. Fakta di lapangan membuktikan lain. Walaupun tidak semua lelaki bermental mencuri, namun cukup banyak perempuan yang semula berharta terpaksa jatuh miskin setelah ditinggalkan suami yang lari sambil membawa serta kekayaan bekas istrinya (berupa tanah yang disertifikatkan atas nama sang suami).
Keyakinan semacam ini ditanamkan, hidup dan terpelihara dalam benak orang dalam sebuah paket berisikan kesadaran akan baik-buruk, salah-benar, adil-lalim yang disebut adat istiadat. Paket mana merupakan bagian dari keseluruhan kebudayaan yang diandaikan mengandung kearifan dan keadilan menurut orang-orang setempat. Banyak orang begitu yakin bahwa yang namanya tradisi dan hukum yang muncul dari adat istiadat itu sudah pasti adil dari sananya sehingga tidak perlu dikoreksi lagi. Pengandaian mana dengan mudah menjurus (baca: terjerumus) pada fanatisme sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi ruang untuk bisa melihat secara kritis segala kebiasaan yang diwariskan dari para pendahulu (nenek moyang). (Maria Rita Ruwiastuti, “Gerakan Reforma Agraria dalam Keadilan Gender, 2010)

1.4 Problem Pendekatan dan Teori
Hingga akhir tahun 2011, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, ada 207 kebijakan peraturan daerah yang diskriminatif terhadap hak-hak kaum perempuan.
Angka itu meningkat dari catatan sebelumnya. Pada periode 1999 hingga awal 2009, tercatat ada 154 kebijakan diskriminatif yang diterbitkan atas nama agama dan moralitas dan menempatkan perempuan serta kelompok minoritas sebagai pihak yang paling dirugikan dari kebijakan-kebijakan tersebut. Sebanyak 82 dari 207 kebijakan daerah tersebut secara langsung diskriminatif terhadap perempuan. Kebijakan yang diskriminatif terhadap perempuan itu mencakup pembatasan hak kemerdekaan berekspresi sebanyak 23 kebijakan yang mengatur cara berpakaian, pengurangan hak atas perlindungan dan kepastian hukum karena mengkriminalkan perempuan dan mengurangi hak atas perlindungan dan kepastian hukum dengan adanya 55 kebijakan tentang prostitusi, pornografi, dan pertemuan dua individu lelaki dan perempuan yang tidak terikat dalam pernikahan. Sebagian dari 55 kebijakan itu juga memuat bentuk penghukuman badan yang tidak manusiawi, dan 4 kebijakan tentang buruh migran yang berakibat pada pengabaian hak atas perlindungan. Sementara itu kebijakan terobosan yang menjamin pemenuhan hak konstitusional perempuan dengan diterbitkannya 73 kebijakan, yang antara lain mencakup 44 kebijakan tentang layanan bagi perempuan korban kekerasan, delapan kebijakan tentang trafficking dan enam kebijakan untuk pendidikan dan kesehatan.
Dalam catatan yang dirilise Komnas Perempuan seperti di atas, menunjukan bahwa perempuan dilapangan agraria belum begitu tersentuh untuk menjadi objek pengukuran klasivikasi dan analisis tingkat kekerasan pada perempuan dan ketidakadilan gender yang terjadi di wiliyah agraria. Di sektor pertanian misalnya, buruh tani perempuan selalu mendapat upah yang lebih rendah dari buruh tani laki-laki. Dan tentu saja sebagai buruh yang juga bekerja di sawah, sebagaimana juga laki-laki bekerja, perempuan tetap dalam kondisi pulang kerja dengan setumpuk pekerjaan domestik_yang walau berat tapi tetap tidak dianggap. Di sektor kelautan dan perikanan, perempuan juga tak kalah berat menanggung beban dan seringkali sampai kepada fase pelanggaran Hak dan kekerasan.

Dalam hal pendekatan dan teori tentang permasalahan perempuan, kemudian muncul banyak perbedaan dalam analisis dan pemahaman tentang penindasan dan eksploitasi terhadap kaum perempuan. Permasalahan perempuan pun menjadi terentang dalam spektrum yang luas; mulai dari benak setiap individu, tafsir agama, sampai institusi negara. Sehingga upaya penegakan keadilan gender dapat berarti juga sebagai upaya menggugat privilege yang dinikmati sebagian kelompok masyarakat. Mentransformasikan gerakan keadilan gender kemudian berarti tidak sekadar memperbaiki status perempuan yang indikatornya menggunakan norma laki-laki, melainkan memperjuangkan martabat dan kekuatan perempuan.

Kekuatan yang tidak dimaksudkan untuk mendominasi yang lain, tetapi kekuatan internal untuk mengontrol hidup dan jasad, dan kemampuan meraih akses terhadap alokasi sumber-sumber material dan nonmaterial. Sementara itu, tugas utama analisis gender adalah memberikan makna, konsepsi, ideologi, dan praktik hubungan antara perempuan dan laki-laki serta implikasinya terhadap aspek-aspek kehidupan lain yang lebih luas.

Namun demikian hal paling awal harus tuntas setidaknya adalah, sebagaimana pernah diungkap (Alm) Mansour Fakih dalam buku “Analasisi Gender dan Transformasi Soial”, harus dipahami oleh setiap orang jika hendak memahami permasalahan ketidakadilan sosial dari sudut pandang kaum perempuan adalah membedakan konsep jender dan seks (jenis kelamin).

Dalam buku “Analisis Gender dan Transformasi Sosial” Mansoer Faqih menguraikan, seks atau jenis kelamin didefinisikan sebagai perbedaan biologis antara dua jenis kelamin manusia yang membawa perbedaan-perbedaan ciri, yakni laki-laki dan perempuan. Laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, jakun, dan memproduksi sperma. Adapun perempuan adalah manusia yang memiliki vagina, rahim, alat menyusui, dan memproduksi telur. Alat-alat tersebut sifatnya melekat dan tidak bisa dipertukarkan antarsatu jenis kelamin dengan yang lain. Sementara itu, jender merupakan konsep yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural, untuk membedakan sifat-sifat nonlahiriah antara laki-laki dan perempuan.
Dalam konsep jender, laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sedangkan perempuan lekat dengan atribut lemah lembut, cantik, emosional, dan keibuan. Berbeda dengan seks, konsep jender ini bisa dipertukarkan satu sama lain.

Seiring berjalannya waktu dan tak lepas dari bentukan masyarakat, agama, dan negara, konsep jender bertransformasi dan seakan-akan telah menjadi ketentuan Tuhan yang tetap seperti perbedaan biologis dan karenanya dianggap sebagai kodrat. Hal inilah yang selanjutnya memengaruhi pola hubungan relasi kekuasaan antara laki-laki dan perempuan; hal tersebutlah yang menjadi akar ketidakadilan sosial atas kaum perempuan dan sumber penindasan terhadap mereka hingga hari ini. Ketidakadilan jender telah menghasilkan keistimewaan-keistimewaan kepada laki-laki. Di sisi lain, perempuan mendapatkan berbagai bentuk marjinalisasi seperti pembatasan ruang gerak perempuan dalam ranah privat, pemiskinan ekonomi, subordinasi, kekerasan, hingga beban kerja berlebihan.


1.5 Perubahan seperti apa yang bisa kita dorong?

Pertanyaan selanjutnya adalah, perubahan seperti apa yang bisa kita dorong? Setidaknya kita bisa mulai dengan melihat kembali mutu kinerja kita sendiri baik lelaki maupun perempuan yang berhasrat kuat membangun gerakan reforma agraria berperspektif adil gender. Seberapa kuatkah gerakan dalam masyarakat terikat pada doktrin-doktrin yang selama ini juga membelenggu kelompok-kelompok perempuan yang kulayani? Sebelum membantu memampukan mereka melepaskan diri dari kungkungan budaya (termasuk agama) agar bisa melihat masalahnya dengan lebih kritis? Keunikan setiap kelompok perlu dihadapi dan ditangani case by case. Buku-buku pendorong keadilan gender yang ditulis oleh orang pintar dan sekolahan relative banyak namun dalam tradisi kita tampak seperti belum berhasrat menulis sendiri pengalaman-pengalaman bergumul bersama kaum perempuan yang berjuang melepaskan diri dari belenggu mereka. Selanjutnya adalah mari kita coba dengan beberapa topik bahasan yang mungkin untuk dicatatkan dalam tema besar Jurnal Agricola edisi kali ini. “Memulai dengan mencoba melakukan sesuatu yang baru walaupun barangkali tidak lazim! Bukankah perubahan dunia selalu dimulai dari pikiran kreatif dan bukan dari ajaran yang membelenggu?”—-Sapere Aude!— istilah Immanuel Kant, berani berpikir sendiri dengan kritis.***

Sabiq carebesth
Jakarta, 2012

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 47,944 hits
%d blogger menyukai ini: