Kepada Segelas Kopiku

Tinggalkan komentar

Maret 9, 2012 oleh sabiq carebesth

#Tak ada kata, kata, kata, tak ada

Bersemanyam di sini di antara lagu dan nama; mempesiang minta nyawa. Aduhai, apa aku harus tertidur di antara lelapmu? Yang ribuan tahun dalam kesunyian?
Di mana engkau di antara air mata yang tertahan? Ia menunggumu datang agar mendengar sebutir suara di antara detak-detak bisu di luasnya hidup yang dihamparkan oleh kebekuan yang menyadari gejolak diam-diam.
Cinta telah bekerja dengan aneh dalam diri dan aku tidak tahu apa-apa. Hanya pada tarian hidup di sudut kerliangan matamu detak-detak bergetar menggetarkan sayat menyanyat dalam jeda, cinta; yang membuat pandanganmu pada tatapku berjarak sedetak getar senyum yang menunda tawa sebelum hatimu di bebaskan untuk menari di tengah langit sewaktu matahari bergerak semau sendiri betah di antara padang rindumu.
Tak ada kata, kata, kata, tak ada. Apa hendak kau sebut, saat rindu kehidupan seketika kehilangan nama-nama; hanya detak, getar bunyi bertalu-talu dalam pesta pora saat kau di lumat asmara.
Aku mencintaimu; dengan cinta yang tak bernama.
[Jakarta, 3 Juli 2011]

#ziarah malam

Apa kami akan kalah malam ini?
Sedang langit benderang dengan panji-panji kemenangan
Obor menyala-nyala mengagumkan hati
Kami tak berdaya melihat bayangan cahaya
Mestikah kami dikalahkan malam ini
Pada keyakinan kami akan kemenangan jiwa
Jika kami terlambat
adakah kami harus menebus dengan ribuan waktu?
Sedang bagimu betapa tak berguanya menghitung waktu:
Waktu berlalu Waktu bergerak maju
Mengitari kekinian mencari kemarin
Untuk ditempakan di sini
Hendak digambar sesuka jiwa ini
Apakah engkau sudi berjanji memberitahu?
sebab ia tertidur dan tak sempat mendengar;
Betapa kami membutuhkan sejumput waktu
yang tak menyebabkan jarak rentang
Secuil nyata yang tak tersunggingkan kenangan
Seutas tali yang tak menali hanya untuk patah
Keyakinan ini menjadi bunyi
Tanpa kata-kata yang di susun menjadi puisi
Keyakinan ini waktu,
Keyakinan ini cahaya,
Jarak dan cinta Tanpa tali jeda mengada
Hanya keyakinan bahwa kami membutuhkan engkau
Maka pada malam gemilang
Kami mengenakan pakaian
Menziarahi waktu dimana engkau menyatu;
tanpa jarak antara malam dan siang;
sunyi dan ramai digemintang gelap nun bunyi.
(Di kamar, 28 Juni 2011)

# Kepada segelas kopiku

Dijumput dari kedalaman gelap
Ia menyemaikan kehidupan
Memabukkan jiwa gelimpungan di tengah nyeri hidup sehari-hari
Engkau saksi bagi tumpahnya air mata
Mereka yang meracu tentang cinta
Kehidupan dan iman sepekat misteri kelammu
Engkau hidupkan kegilaan dalam pekatmu
Dan kau pelihara orang-orang gila bersama kepekatan yang manis
Dikandung hidup antara rindu
Engkau berganti menjadi candu Bagi hidup yang ngilu
Ada tari-tarian yang digelar dalam pesta pora malam
Ada puisi yang kehilangan kehendak
Lalu menarik-narik nyawaku
kebatas nyata dan gua di dasar gelisah
Seorang gila yang menggerutu
Kehilangan kekasihnya
Ditelah kegelapanmu
Ia turut menari kini
Dalam pencarian
Sampai penghabisan
Dan diukirnya sebuah nama dan cinta
Dengan tinta hitam dari samuderamu
Ia menatap padaku:
Seorang gila dalam segelas kopiku
Ia, serupa aku.
(di kamar, 27 Juni 2011)

#kepada sebatang rokok

Baik padamkan apimu
Sebelum segala jadi abu Serupa kau
Betapa muram kepulan asapmu
Perlahan-lahan membakar seluruhmu
Dalam nyala yang mengikismu
Dari kepiluan-kepiluan masa lalu
Sebatang rokokku kembali berapi
Dinyalakan oleh rindu padamu.
(Jakarta, Juni 2011)

# Kepada perokok itu

Asap dari rokokmu membenamkan senja
Membenamkan pula ragu dan rindu
Sampai di pinggir pematang jiwa
Engkau tetap mengira
Senja masih di sini
Memayungimu bernyanyi ;
menahan nyeri hati
Sudah lah Mari sini kubuatkan kopi
Mabuklah dengan tuak;
dari cawan rinduku yang tak bisa kau genggam
Damailah dalam segelas teh;
yang kuseduh dari telaga waktu
sewaktu kau dan aku dulu bertemu
untuk merajut kisah sekali malam ini…
(di kamar, 27 Juni 2011)

#Kepada Penyair

Sejelita apa puisi?
Hingga perempuan tak lagi dapat menggoresmu; nyeri Rumah darah daging; irama Apa yang kau cari? “tak ada lag!!” tegasmu Suara dan bunyi; kata-kata dan cinta, Yang datang dan yang hilang Kembali ke asal seperti setiap gerak adalah awal Tak ada ketakutan;
pada kesenyunyian enggan segala apa adalah keberadaan Yang ada pada adanya Kosong; bukan…
II
Adakah yang lebih tak seirama seperti antara penyair dan puisi? Tak pernah sepaham tak perah kan bersekutu Dibentangnya jarak sejauh-jauhnya batas jarak Setiap jeda adalah jalan pulang ketitik mula Setiap mula adalah jarak sejauhnya Di seberang jalan penyair melangkah Di dada seorang gadis muda sajaknya didekap nun manja
Oh alangkah.. Penyair adalah puisi Yang menjelma penyair mabuk Didekap jarak cinta dan sunyi Seperti puisi di dada gadis bermata sunyi

(19 Juni 2011)

**Sabiq Carebesth, lahir pada 10 Agustus 1985, penyair dan pecinta buku
sumber tulisan; http://oase.kompas.com/read/2011/07/16/09111280/Puisi.puisi.Sabiq.Carebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 44,768 hits
%d blogger menyukai ini: