Bila Seruling Bambu Meniupkan Rindu

Tinggalkan komentar

Maret 9, 2012 oleh sabiq carebesth

”Bila seruling bambu meniupkan rindu”

Bila seruling bambu meniupkan rindu Dari kelukaan masa lalu yang maha pilu

Engkau mulai menyanyikan lagu Duduk tersedu di tepi danau Seperti dahulu ia selalu begitu

Melewatkan malam menimang pagi Engkau menunggu dan menetapkan hati Untuk menantinya kembali ”Barangkali pagi ini….” Tapi ia tak pernah kembali

Di Kamar, 14 Januari 2011 Sabiq Carebesth

”Tetap di sini; jangan ke mana-mana..”

Dingin sekali rasanya hati Dari mana ini dimulai? Kita tak lagi mencari!

Hari-hari kan berlalu Waktu-waktu kan menuju Sejenak terhenti Seperti hati kita pada suatu pagi

Terjaga dari tidur yang tadi Seolah engkau tetap di sini Berdesir hati menanti Aku hanya ingin engkau yang di sisi

Kita menari pada suatu pagi Tarian yang menanti Tarian yang berjanji Tarian yang digerakkan oleh hati Agar engkau berjaji takkan pergi:

”Tetap di sini; jangan kemana-mana..”

Sepotong puisi yang menjadi sunyi Tak jadi-jadi; tak henti-henti Mengisahkan dua hari: Alangkah sunyi Pagi… Terjaga dan menanti

”Tetap di sini; jangan kemana-mana..”

Di Kamar, 14 Januari 2011 Sabiq Carebesth

”Tak saling merengkuh”

Yang menyesak waktu jarak tinggal sejenak Apa itu antara kau dan aku? Tinggal dalam sekam asamara Tak menyala padam pun tak kuasa

Di luar malam menjelang Di dinding waktu ketika itu kita saling menunggu Di kabut dan hujan ketika itu kita merayu Agar rindu menyemai jadi taman dan ruang

Kita yang dalam bimbang Melayari laut jiwa yang tak bertuan Di mana kah ujung dan kita ingin rebah Seolah tak ada yang menunggu untuk pulang

Jika sepasang mata jatuh dan merengkuh Kita membisu dalam melangkah menjauh Tapi waktu tak hendak memberi sebab Kita hanya menuntun diri kebalik tirai Sedang ribuan cerita tertinggal di ruang Tak saling merengkuh Hanya ingin duduk dan memandang Memastikan pandangan yang terjatuh Adalah pasti untukmu……..

@office, 6, 44 wib 18/01/2011

”Apa hanya rindu?”

Ke mana lagi mesti berlari Kemana lagi mau sembunyikan hati?

Kita yang berlari keluar rumah Dan merasa bahagia

Kita mabuk di jalan-jalan ini Kita merasai getaran sedalam ini Kita bertanya-tanya: ”Apa hanya rindu?”

Ke mana lagi sembunyikan hati Orang-orang sedang lelap dan bermimpi

Malam ini telah berlalu Hanya hati kita yang terjaga; merindu

”Hanya rindu?”

Panggilan dari kesunyian Seperti meminta kita kembali

Kita yang berlari keluar rumah Dan merasa bahagia

Di bawah bintang, rembulan dan hujan Senja yang gemilang; tiada berbeda Sebab hati kita terus menunggu Sebelun senja terbenam kelabu dalam sepi masa lalu.

14 januari 2011 Sabiq Carebesth

”Tetap di sini; jangan kemana-mana..”

Dingin sekali rasanya hati Dari mana ini dimulai? Kita tak lagi mencari!

Hari-hari kan berlalu Waktu-waktu kan menuju Sejenak terhenti Seperti hati kita pada suatu pagi

Terjaga dari tidur yang tadi Seolah engkau tetap di sini Berdesir hati menanti Aku hanya ingin engkau yang di sisi

Kita menari pada suatu pagi Tarian yang menanti Tarian yang berjanji Tarian yang digerakkan oleh hati Agar engkau berjaji takkan pergi:

”Tetap di sini; jangan kemana-mana..”

Sepotong puisi yang menjadi sunyi Tak jadi-jadi; tak henti-henti Mengisahkan dua hari: Alangkah sunyi Pagi… Terjaga dan menanti

”Tetap di sini; jangan kemana-mana..”

Di Kamar, 14 Januari 2011 Sabiq Carebesth

sumber ; http://oase.kompas.com/read/2011/02/01/19172465/Puisi-puisi.Sabiq.Carebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: