Uang dan alienasi di pedalaman suku Asmat (wawancara sabiq carebesth dengan pastur Virgil di sebuah biara di Bandung)

Tinggalkan komentar

Maret 5, 2012 oleh sabiq carebesth

DALAM TEORI FILSAFAT SOSIAL Modern, uang disebut sebagai pangkal terjadinya alienasi (keterasingan) masyarakat yang menyebabkan tidak hanya kesadaran palsu yang hegemonik, yang menjauhkan masyarakat dari realitasnya penghidupannya sendiri, tetapi juga dekadensi moral dan lenyapnya karakter. Tradisi dan mentalitas yang kuat dan selama ini mandiri dalam menopang proses sosial dan kehidupan, perlahan-lahan dihempaskan olah lahirnya kebudayaan dan kebiasaan baru yang muncul dan didasari oleh uang. Dalam sebuah nyanyian di era 80 lyric lagu yang dipoppulerkan oleh Nicky Astria pun gemuruh menyuarakan dengan nada satir persoalan uang dan segala akibat keterasingan rakyat dari realitas yang diakibatkan oleh uang;” lagi-lagi uang, lagi-lagi uang……”

Fenomena itu rupanya bukan sekedar teori kosong yang jauh dari landasan dialektika penghidupan social- masyarakat, atau isapan jempol kelatahan, melainkan gejala keterasingan yang nyata yang disebabkan oleh “lagi-lagi uang”.

Sekarang fenomena itu tengah menggejala ditengah masyarakat kita. Krisis mental dan lemahnya karakter menandai mengiringi proses tersebut. Kemandirian, gotong royong, keswasembadaan sampai berubahnya corak produksi masyarakat tak luput tergerus dan akibatnya mengalami tingkat dekadensi yang kritis. Fenomena tersebut diatas tidak hanya berjangkit dikalangan mansuia-mansuia konkrot perkotaan, tetapi juga di masayarakat adat pedalaman yang selama ini kita kenal dengan harmoni dan spirit wisdom kearifan akan kemandirian dan laku tata hidup yang penuh kesahajaan dan gotong royong.

Di pedalmaan suku Asmat, Papua, adalah gejala dari fenomena yang bisa dengan nyata kita saksikan, fenomena keterasingan dan dekadensi akibat uang tengah terjadi dan masih berlangsung, menggerus hamper semua sendi spritualitas hidup yang ribuan tahun membuat mereka bertahan dan terhormat.

Hal itu terkuak dalam wawancara Bina Desa (15/010) dengan Pastur Virgil Peter Meiyer, seorang berkebangsaan Amerika yang sejak tahun 1977 tinggal di pedalaman suku Asmat sebagai juru didik dan mengembangkan budaya baca tulis dan ekonomi koperasi di sana. Berikut petikan wawancara Sabiq Carebesth dari Yayasan Bina Desa dengan pastur Virgil Peter Meiyer ketika ditemui dalam kunjungannya di biara Aloisius, Sultan Agung, Bandung.

Sebelumnya Bisakah bapak menceritakan kepada kami tentang pengalaman bapak selama sekian tahun di pedalaman Suku Asmat, Papua. Apa yang bapak saksikan, apa yang berubah dan begitu membikin nyeri hati nurani?

Pertama saya ceritakan bagaimana saya disana. Saya datang sekitar tahun 70-an sebagai mahasiswa calon pastur di university saya di Amerika. Selama tiga tahun pertama saya tinggal dan bergaul dengan masyarakat di suku Asmat khususnya, waktu itu saya sempat menyaksikan perusakan hutan-hutan di pedalaman papua akibat pembalakan liar yang menghancurkan sumbu ekonomi masyarakat yang pekerjaanya mengolah kayu untuk income mereka. Akhirnya saya mendampingi mereka membikin koperasi karena saya melihat cara ekonomi koperasi yang berkeadilan. Tetapi lantas saya kembali ke Amerika untuk menyelesaikan study kepasturan saya. Dan baru pada tahu 1977 saya kembali lagi ke sini (pedalaman Asmat) sampai sekarang.

Bagaimana jalannya koperasi itu sekarang?
Setelah sempat maju dan ekonomi masyarakat mulai terbangun, dengan sangat disayangkan sekarang bangunan ekonomi koperasi itu mulai hancur, dan hanya tinggal beberapa saja.

Apa sebab permasalahannya?
Sebenarnya sekilas mereka sangat positif. Yang saya maksud adalah tradisi nilai social mereka, kebiasan bagi-membagi sangat tinggi. Namun hal itu menjadi tanpa perencanaan ekonomi mikro yang baik, akhirnya koperasi bangkrut.

Ceritakan pada kami bagaimana sesungguhnya masyarakat disana, sosiologis dan antropologisnya. Bagaimana corak produksi yang mereka selama ini bertahan dan menjalani hidup social mereka?
97 % masyarakat di pedalaman Suku Atstgreek Kab. Asmat (dulunya hanya sebuah distrik), adalah masyarakat peramu. Artinya mereka tidak bisa dikategorikan sebagai petani. Mereka tinggal di pesisir perairan diantara hutan lebat pedalman. Mereka mencari ikan dan mengolah sagu atau dari hasil hutan, kayu dan hewan-hewan hutan untuk diburu sebagai sumber pangan.

Bagaimana dengan pendidikan di sana?
sekolah di pedalaman yang memprihatinkan dan mundur sekali. Kebanyakan anak kelas 6 SD saja masih belum bisa baca tulis.

Apa persoalan dan penyebabnya?
Saya melihat minimnya tenaga pengajar. Kalau pun ada dedikasi guru sangat lemah. Sementara sekarang putra dairah keperduliannya akan pendidikandi pedalaman sangat kecil. Sekolah disana banyak hanya sekolah kelompok dan swasta, tapi gurunya perlahan menuntut harus jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena alasan kesejahteraan. Kalau tidak voulentarismenya menjadi turun.

Terlepas dari soal pendidikan khususnya, secara umum apa yang sudah dilakukan pemerintah dariah atau Negara?

Secara fisik mulai banyak pembangunan, populasi sekarang tinggi, tapi saya merasakan ada mentalitas masyarakat yang sedang sangat merosot, gotong royong tidak ada lagi. Segala hal di proyekan. Uang jadi utama. Uang mendasari segala perilaku social yang dahulunya bisa dilakukan dengan gotong royong dan kswasembadaan. Potert bahwa mereka dulu bisa hidup mandiri dan terhormat. Sekarang berbuat sesuatu secara social sangat susah.

Seperti apa misalnya mundurnya mentalitas dan karekter itu, bisakah digambarkan
?
Misalnya sekarang orang mau menyelenggarakan pesta adat, atau mau membangun rumah adat masyarakat meminta uang pada Buapati. Menurut saya itu tidak baik. Saya sempat bilang pada mereka’Kalian khianati tradisi luhur kalian.’Tapi hal itu tidak didengar lagi sekarang.

Kenapa bisa berlaku semacam itu, apa faktornya?

Ini faktor uang. Sikap jalan pintas yang menggejala. Mental peramu kini, walau tidak semua masayarakat begitu, menjadi ‘pohon uang’. Buapati hanya menjadi penjaga ‘Pohon Uang’ yang membago-bagi proyek. Mereka tidak sadar kalau hal itu sedang dan menyebabkan rusaknya karakter masayarakat. Sekarang buka kebun saja harus di bayar. Dulu saya tidak pernah melihat fenomena semacam itu.

Baiklah, saya ingin sedikit keluar dari persoalan itu tetapi mungkin masih ada korelasinya. Saya ingin menanyakan tentang fenomena perang antar suk, apa yang sebenarnya terjadi?

Pemicunya bisa banyak dan macam-macam. Tapi hal itu sebenarnya sering terjadi karena perbatasan tanah dilanggar. Dan untuk hal itu pada 1980-an kami sudah undang Ibu Maria Ruwiastusi, pakar masalah agrarian dan masyarakat adat untuk biacara dan member pendidikan soal hak tanah khususnya terkait hak tanah ulayat. Selain itu saya melihat pemekaran wilayah juga jadi factor karena saya mengamai masyarakat sebenarnya bimbang dan belum siap dengan proses semacam itu. Akibatnya proyek pemekaran menjadi tidak karena alasan substantif tetapi lebih karena sumberdaya yang mau dipesan dan soal uang.

Bagaimana pemahaman mereka atas hak tanah mereka?
Mereka tahu hak mereka dengan kearifan lokal yang mereka miliki sejak dahulu. Tapi potensi konflik penguasaan tanah tinggi karena masih rancau batas-batas. Masih rancau antara hak ulayat mereka dengan, sementara pemerintah, juga mengclaim tanah itu hak mereka. Karena itu pemetaan terus di usahakan agar jelas hak ulayatnya.

Pertanyaan terakhir saya karena waktu hampir tengah malam, apa yang bisa bapak refleksikan dan sampaikan pada kami atas fenomena di sana?
Saya berpikir mereka harus diberi kesadaran bahwa mereka memiliki kearifan yang tinggi yang selama ini mereka bisa hidup dan mandiri. Persoalan hak-hak mereka sebagai warga Negara dan sebagai masayarakat adat, saya sendiri berharap mereka mendapat penguatan hak atas tanah ulayat mereka, itu milik mereka dan hak mereka yang tidak boleh diambil atau dirampas. Karena saya melihat fenomena investasi misalnya lahan yang dijadikan perkebunan sawit atau bahan pembuat pabrik tisyu, itu sangat merusak, lagi pula mereka adalah msayarakat peramu, kalau hutan mereka rusak bagaimana penghidupan mereka di masa depan? Sesudah itu saya berpikir mereka membutuhkan pendidikan untuk perencanaan ekonomi mikro keluarga. Ini tampaknya hanya hal sepele, tetapi mendasar.*

22.30 WIB, Hujan diluar mulai mereda, kabut bertampik dan pembicaraan malam itu berakhir. Demikian terbersit dalam benak saya, sebuah bangsa mestinya dibangun dengan pondasi mentalitas dan character yang kuat. Kearifan yang dimatangkan bersama pola kebebasan dan nilai tradisi, spirit wisdom yang dipahami dari relung terdalam masyarakat. Bangsa yang dibangun dengan uang, sampai harus menumpuk utang luar negeri, adalah pemahaman yang salah dalam usaha menguatkan bangsa. Uang hanya akan mengalienasi, mengasingkan dan mejauhkan masyarakat dari realitas dan kearifannya. Dan akhirnya, bangsa yang dibangun dengan paradigm”lagi-lagi uang”, pembangunan apapun yang dilakukan akan selau patah.!

#liputan ini saya lakukan pada 2010 di sebuah biara di dairah dagi di Bandung di malam paskah bersama Pastur Virgil, seorang berkebangsaan Amerika yang sekarang tinggal di pedalaman Suku Asmat. (sabiq carebesth, 2010)

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Pengunjung

  • 45,245 hits