Memasukkan Karya Ke dalam Zamannya

Tinggalkan komentar

Februari 6, 2012 oleh sabiq carebesth

Oleh : Sabiq Carebesth

Sejak kapan seorang di sebut sebagai seniman? Tentu saja setiap orang (dan setiap seniman) boleh turut menjawab sesuai dengan kadar horizon pengalamannya atas realitas diri dan realitas kehidupan. Demikian karenanya tulisan ini tidak berpretensi untuk memberikan jawaban baku atas pertanyaan itu. Toh memang tidak akan bisa—inspirasi—yang menjiwai kesenian hendak di institusikan dalam kebakuan. Namun tuisan ini ingin menjadi sebagai wahana berefleksi, evaluasi dan kontemplasi menuju tindakan praksis.

“Seni bukanlah penolakan total bukan pula penerimaan total terhadap sesuatu seperti apa adanya.” Demikianlah sekilas paham kesenian Alber Camus. Yang pertama dimaksud Camus sebagai rujukan pada pengertian “Nihilisme”, sedangkan yang kedua pada pengertian atas “realisme” kalau tidak boleh menyebut konsep “mimesis” Aristoteles yang acap kali diintrpretasi sebagai semata-mata “meniru yang di alam riil” tanpa menyertakan pengertian reintrepretasi dan konfrontasi seperti pernah dibicarakan Umar Kayam atau YB. Mangunwijaya.”Usaha meniru adalah usaha reintrepretasi, semakin kompleks akan semakin baik dalam usahanya memahami.”

Lantas apakah yang diinginkan Camus bagi seni (kebebasan) kita? ”Tidak perlu menentukan, apakah seni harus lari dari realitas atau tunduk pada realitas, melainkan berapa dosis realitas yang harus di ambil karya seni sebagai pemberat agar tidak mengapung di antara awan-awan atau supaya tidak terseret di dasar bersama sepatu pemberat.” (Albert Camus, Perlawanan, Pemberontakan, Kematian. Hlm. 336)

Dalam hal di atas terkandung dengan jelas paham absurditas dan pemberontakan Camus, bahwa seni sekaligus merupakan penolakan dan penerimaan, resepsi dan sekaligus paralogy imaji ideal manusia dengan realitas historis yang berlangsung dialekstis; dan inilah sebabnya mengapa seni harus merupakan aksi menjauh yang terus menerus diperbarui. Seniman senantiasa hidup dalam abiguitas; yang tidak mampu menegasikan yang riil, namun terus menerus mempertanyakan dalam aspek-aspeknya yang tidak pernah selesai. Konskuensinya, gaya yang agung terletak antara seniman dan objeknya. Setiap seniman memecahkan masalah ini menurut hemat sendiri dan kemampuannya. Semakin besar seorang seniman memberontak melawan realitas dunia, semakin besar bobot realitas untuk mengimbangi pemberontakkan itu. Namun, bobot itu tidak pernah melumpuhkan kebutuhan soliter seniman. Itulah absurditas pandangan Camus atas persoalan relitas, imaji dan seni kita, yang kiranya masih pantas ditimbang.

******

“Realitas Imaji dan Seni Kita”

Juru jagal yang senantiasa menjadi ancaman bagi dunia kasusatraan, atau yang Jean Paul Sarte menyebutnya “seni menulis”, dalam renungannya pada tahun 1947, bahwa seni menulis terancam oleh dua bahaya: propaganda dan hiburan. “Seandainya dunia menulis terbawa menjadi propaganda belaka, atau hiburan semata, maka masyarakat akan kembali hidup tanpa ingatan bak lebah atau siput.” Tulisnya dalam situation de la literature (1947)

Daniele Sallanave, seorang guru sastra dan film Universitas Nanterre dalam esainya yang berjudul “Dunia Kita” memberikan suatu penalaran yang mempermudah kita memahami ancaman yang dimaksud Sarte. Menurut Daniele Sallanave, tentang seni propaganda, kita tahu banyak melalui rezim otoriter yang sepanjang abad ini, dengan tekad dan tekun mengekang semua jenis fiksi dan narasi, dan mengintimidasi para pengarang, atau menumpasnya begitu saja. Apa yang menimpa Pramodya Ananta Toer dan karyanya adalah contoh yang dekat dan nyata dalam hal ini.

Tentan hiburan semata, seni untuk seni, kita tahu lebih banyak ketimbang Sarte, atau Pram, sebabnya, zaman kita ini ditandai secara mencolok oleh suatu kemerosotan seni kearah budaya mengisi keisengan, hiburan, dan kearah komoditas—dengan mempromosikan buku-buku pelarap (best seller) bikinan. Dengan kata lain,

seni makin tunduk pada hokum konsumsi. Dibandingkan dengan seni rupa dan perfilman, kasusatraan sedikit banyak berhasil lolos. Sebabnya infestasi (uang modal) dibidang sastra relative rendah. Namun celakanya, dengan ironis, hal itu dibarengi dengan suatu ralitas minimnya apresiasi (kepedulian dan minat) orang terhadap sastra. Jumlah pembaca karya sastra(pembaca yang oleh NH. Dini disebut sebagai yang mau melesat kedalam dunia pengarang dan meninggalkan dunianya sendiri,) mandek atau bahkan menurun. Sementara produksi sastra yang bisa dikatakan mengalami peningkatan—diantara indikasi semakin banyak bermunculannya penulis—tetap menyimpan ironisme dengan kenyataan produksi sastra yang lahir masih cenderung mempergunakan jenis dan topic narasi yang sudah usang. Ujung-ujungnya,–hiburan missal—beralih ke film atau bahkan sinetron.

Pada akhir 70-an Mario Vargas Llosa menyebut fenomena tersebut sebagai pesta pora tanpa akhir, yaitu konfrontasi yang mandul antara kasusastraan hiper formalis yang berasal dari Noeveau Romandi satu pihak, dan kasusastraan yang bersifat pelampiasan, yang dipandu oleh kitsch, hiasan, kecantikan dan hiburan dipihak lain. Karena realitas itu, tepat rasanya kalimat sarte sampai tahun terakhir ini: “kalau menjadi propaganda belaka atau hiburan semata, kasusastraan akan membiarkan manusia diserbu segala jenis penaklukan.”

******

Pertanyaanya: di dalam dunia yang semakin seragam ini, bagaimana kasusastraan dapat menempatkan diri, berkembang dan memberi sumbangsih untuk mewujudkan kebebasan kita? Dan kalau demikian, jawaban atas pertanyaan itu mengandung konskuensi untuk menjawab pertanyaan sumbernya: apa itu Seni? Ya, jawabannya memang tidak sederhana. Apalagi di tengah kecenderungan zaman kita untuk menyederhanakan segala sesuatu—sekedar demi kepantasan dan dianggap logis.

Ketidaksederhanaan tentang apa itu seni disebabkan karena seniman ada bersama karya seninya, yang karya seni menjadi bukan apa-apa tanpa realitas dan tanpa seni. Realitas menjadi tidak siginifikan; itulah ambiguitas, konfrontasi dan paradoks bagi realitas, imaji dan seni kita—yang sekali lagi tidak sederhana apalagi untuk disederhanakan.

Seniman menjadi subjek dari realitas yang dipilihnya, juga seniman menjadi objek bagi realitas yang telah memilihnya. Itulah seni dalam dialektika historisnya yang terus menerus beserta aspek-aspeknya yang tidak pernah selesai—Harapan!!

“Demikianlah dunia, namun bukan demikian: dunia bukan apa-apa dan dunia adalah segalanya.” Itulah jeritan kontradiktif yang berarti ‘harapan’ dalam pengertian Alber Camus. “Seni bukanlah penolakan total bukan pula penerimaan total terhadap sesuatu seperti apa adanya. Seni sekaligus merupakan penolakan dan penerimaan. Dan inilah sebabnya mengapa seni harus merupakan aksi menjauh yang terus menerus diperbarui sementara seniman senantiasa hidup dalam kondisi ambiguitas, yang tidak mampu menegasikan yang riil, namun terus menerus mempertanyakannya dalam pemberontakan yang tak pernah selesai.” (Wawancara dalam majalah DEMIAN; th. 1942)

Andre Gide menarasikan hal serupa dengan baik, walau menurut Camus pernyataan Gide sering disalah pahami:”Seni hidup dengan pengekangan-pengakangan dan mati kerena kebebasan.” Yaitu pengekangan dari pembatasan yang dikenakan terhadap seni itu sendiri, dan bukan sebab seni bisa dikontrol. Hal itu mengandaikan bahwa jika seni tidak membatasi diri sendiri, seni akan menggunakan ocehan hegeminiknya dan menjadi budak baying-bayang belaka. Alber Camus menilai, tidak ada karya seni yang magis dan jenius seperti dalam tragedy Yunani, Tolstoy atau Gabriel Garcia Marquez, di dasarkan pada kebencian dan penghinaan. Sebab seniman (dan karya seninya) memerdekakan dan bukan mengutuk. Bukankah demikian daya emansipatoris yang kita harapkan dari dunia seni kita? Karena tujuan seni bukanlah mengatur atau merajalela, melainkan yang utama adalah memahami.

Seorang pengarang Austria, Heimito Von Doderer, mengistilahkan usaha “memahami” itu sebagai “ilmu kehidupan”: menawarkan suatu model pemahaman hubungan, tindakan dan gairah manusia. Bukan untuk menentang melainkan mendampingi model-model ilmiah tentang pengetahuan dunia. Kasusastraan, menurut Louis Althuser memang tidak mampu melakukan tindakan revolusi untuk suatu kondisi kehidupan sejahtera, kasusatraan tidak perlu mengganti kepolitikan, tetapi kasusastraan menjadi pendorong dari usaha-usaha revolusi. Fungsi dan keabsahannya yaitu membuka renungan yang tidak akan berakhir tentang makna kehadiran manusia-manusia konkrit.

Karena itulah, tepat rasanya ditengah gagasan “seni untuk seni” dan “seni komitmen” yang mengancam zaman kita seperti telah kita refleksikan di awal tulisan ini, tepat kita mempertimbangkan apa yang oleh Alber Camus di istilahkan sebagai “Memasukkan karya kedalam zamannya”—dengan kata lain, kejadian yang terdekat, manusia-manusia konkrit yang hidup hari ini. Seniman tidak dapat berpaling zamannya, tidak pula kehilangan diri dalam zamannya. Jika dia berpaling dari zamannya, dia berbicara dalam ruang hampa. Apabila dia menggunakan zamannya sebagai objek, dia menegaskan eksistensinya sendiri sebagai subjek, dan dengan demikian tidak menyerah kepada zaman.

”….Cuma kenangan berdebu/kita memberi arti/atau diserahkan pada anak lahir sempat/karena itu jangan mengerdip/tatap dan penamu asah.”(Chairil Anwar: 1942) itulah sajak ajakan Chairil Anwar yang menjadi tonggak bagi semangat zaman modern kita.

Sudah berakhir kiranya zaman dimana seniman hidup sendirian berpangku tangan tercerabut dari realitas generasi zamannya. Mereka memang hidup, dan akhirnya mati sendirian seperti ketika mereka hidup. Begitulah manifesto kesenian Camus yang dengan baik berusaha memahami zamannya, memberontak dan tidak tunduk dikalahkan oleh kondisi zamannya.”Kami para penulis abad ke-20 tidak akan pernah lagi sendirian. Kita hidup bersama zaman kita, kita harus tahu kita tidak pernah dapat lari dari kesengsaraan bersama yang menindas zaman kita. Dan satu-satunya justifikasi kita, jika ada justifikasi, ialah berbicara sejauh kita dapat, bagi mereka yang tidak dapat berbicara.” Atau dengan kata lain Camus ingin mengatakan bahwa seorang penulis saat ini tidak dapat melayani orang-orang yang membuat sejarah; ia harus melayani mereaka yang menjadi sasaran sejarah itu. (Albert Camus, dalam sambutan pada acara penerimaan hadiah Nobel bidang sastra: tahun, 1957)

Maka dari itu izinkanlah saya menutup tulisan ini dengan ajakan, untuk terus hidup dan untuk terus berkarya, sebab mungkin kita akan hidup untuk seribu tahun lagi….!?

———-

Penulis adalah Direktur pada Lingkar Studi Kebudayaan Indonesia (LSKI)Jakarta, dan bekerja sebagai Editor Publikasi Indhrra (Indonesian Secretariat for the Development of Human Resources in Rural Areas) Yayasan Bina Desa. Novel Pertama ”Burung Kertas Menempuh Takdir Sunyi” akan segera terbit, April 2010.

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Februari 2012
S S R K J S M
« Okt   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Pengunjung

  • 44,282 hits
%d blogger menyukai ini: