Saijah dan Adinda; Tentang Riwayat Kegagalan Misi Historis Kolonialisme Belanda di Hindia Belanda

1

Februari 4, 2012 oleh sabiq carebesth

Oleh; Sabiq Carebesth

Masyarakat politik Eropa abad ke 19 dengan kayakinan yang bahkan berlebihan meyakini bahwa kolonialisme, secara tidak langsung memiliki peran sebagai motor sejarah bagi rakyat jajahan untuk keluar dari penindasan dan keterbelakangan sistem sosial mereka, benarkah anggapan itu?
Jika anda mempercayai anggapan itu, sebaiknya anda membaca sebuah novel “Max Haveelar” karya Multatuli. Bagi Multatuli, yang adalah Eduard Douwes Dekker; anggota Dewan Pengawas Keuangan Pemerintah Belanda yang pertama kali ditempatkan di wilayah Batavia (hindia-Belanda) pada 1840, lalu meminta di pindahkan ke Sumatera Utara dan Sumatera Barat Tahun 1842 sebelum akhirnya ditugaskan di Lebak, Banten, pemerintah kolonial di Hindia Belanda dengan sistem birokrasi pribuminya justeru telah memperkuat struktur feodal tradisional yang menindas rakyat. Dan kiranya, mekanisme apa pun dalam meraih keuntungan di koloni, selama tidak menyelesaikan bentuk penindasan adat, hanya akan menambah penindasan baru dalam masyarakat jajahan.

Telah terjadi penyalahgunaan!! “nun di sana rakyat tuan jang lebih dari tiga puluh djuta disiksa dan dihisap atas namamu…!” Demikian bunyi penutup Max Havelaar atau lelang kopi persekutuan dagang Belanda.

Melalui buku ini, yang ditulis di sebuah losmen yang disewanya di Belgia, pada musim dingin di tahun 1859, Multatuli menguraikan bagaimana kolonialisme Belanda di Hindia Belanda pada saat itu sebagai suatu “Skandal” yang memalukan. Tidak heran apabila kemudian buku ini begitu banyak menjadi acuan orang dalam kaitannya denagn persoalan kolonialisme Belanda pada saat memasuki abad ke-20.
“Terutama pada pegawai pemerintah junior, buku Max Haveelaar memberikan pengaruh yang luar biasa, “demikian tulis Dr. Rouffar dalam catatan perjalannya di Hindia Belanda dari tahun 1885 sampai dengan tahun 1890. namun bukan hanya terbatas pada kalangan-kalangan pembaca di Belanda, buku ini dikenal luas dans ering dikutip oleh tokoh-tokoh pergerakan Indoensia ketika mereka membahas persoalan kolonialisme.

Di dalam Medan Prijaji pada tahun 1910, R.M. Tirto Adhisurjo sebagai tokoh pers pribumi terutama Hindia Belanda menulis, “Bacalah dengan baik, maka anda akan segera mengetahui bahwa gema dalam buku yang di tulis Multatuli sampai sekarang masih terdengar”

Jadi siapakah Multatuli? Apa yang dilakukannya dengan novel Max Haveelarnya sehingga tampak sedemikian besar pengaruh buku tersebut? Bahkan sampai pada 1980an ketika bukunya di filmkan, penayangannya sempat dilarang oleh pemerintah Orde Baru.

Satu abad lebih setelah karya Multatuli dibaca di seluruh dunia, faktor apakah yang membuat buku tersebut begitu layak diminati dan menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh perjuangan nasional Indoensia? Sampai Sastrawan Alm. Pramodya Ananta Toer menyebut bahwa baginya, seorang politikus bangsa ini yang tidak mengenal Multatuli praktis tidak mengenal humanism, humanitas secara modern. Dan politikus yang tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politikus kejam, Pertama, karena dia tidak kenal sejarah Indonesia, kedua karena dia tidak mengenal perikemanusiaan; humanism secara modern.
Pramodya Ananta Toer dalam wawancaranya dengan August Hans den Boef dan Kees Snoek, mengaku menyukai multatuli karena humanismnenya tanpa kompromi. Bagi Pramodya Ananta Toer juga, Multatuli adalah salah satu factor dalam pembentukan para intelektual di Indonesia. Dia dipelajari di HBS. Siapa yang tidak kenal Multatuli akan dianggap orang yang tertinggal.

Bagi Pram, Multatuli adalah pendorong kebangkitan kesadaran intelektual. Ia menyadarkan mereka bahwa mereka punya tanah air, bahwa mereka punya bangsa dalam penjajajahan, dan bahwa ada seorang Belanda yang menentang perlakuan terhadap bangsanya itu, mulailah timbul kesadaran, dan itu melalui Multatuli.

Melalui karyanya, Multatuli hadir sebagai penulis kontrovorsial yang memberikan gugatan terhadap pelaksanaan sistem kolonialisme Belanda pada pertengahan abad ke-19. Roman ini jelas saja adalah kritik tajam yang telah “membuka” sebagaian besar mata publik dunia, tentang betapa perihnya arti dari sebuah penindasan kolonialisme. Dan dengan sebuah keyakinan yang termanifestasikan dalam ungkapan,”Ya, aku abakal dibaca’, Multatuli berjuang menghadirkan sebuah mahakarya sastra yang patut menjadi pelajaran bagi seluruh bangsa.

Di dalam karya-karyanya, ia memang tidak memberikan jawaban akhir tentang bagaimana mengatasi persoalan kolonialisme. Melalui tulisannya, Multatuli lebih mempersoalkan bagaimana bentuk penindasan yang dialami oleh penduduk yang dilakukan oleh penguasa tradisional mereka, yang justeru dilanggengkan oleh sistem kolonial Belanda. Kedudukan-kedudukan itulah atau ”penyalahgunaan” yang menurut Multatuli menjadi inti persoalan kolonialisme Belanda saat itu.

Kolonialisme dan Kegagalan Misi Historis di Hindia Belanda

Jika kita mengingat, perdebatan-perdebatan yang terjadi di sekitar isu tentang kolonialisme adalah, argumentasi seputar masalah kolonialisme tidak dapat dilepaskan dari konsepsi lama yang mendasarkan diri pada dilema antara penindasan dan kemajuan bagi rakyat kolonial.

Perdebatan untuk kasus Hindia Belanda saat itu, baik pihak liberal mau pun sosial demokrat di parlemen Belanda ketika itu, masing-masing menyandarkan diri kepada argumentasi bahwa kolonialisme secara tidak langsung memiliki peran sebagi motor sejarah bagi rakyat jajahan untuk keluar dari keterbelakangan sistem sosial mereka. Optimisme bahwa kolonialisme membawakan aspek positif bagi rakyat jajahan terus bertahan sampai dengan periode perang dunia II dengan maraknya gerakan nasionalisme di negeri jajahan.
Dan rasanya, debat panjang yang sarat latar kepentingan politik ketika itu, benar-benar seperti harus ditutup dengan hadirnya pendapat Multatuli melalui roman Max Haveelarnya.

Berbeda dengan serangkaiaan debat perspektif politik dalam menjawab masalah kolonialisme, karya Max Havelaar dari Multatuli memberikan suatu jawaban yang secara tidak langsung menyatakan kegagalan pemerintahan kolonial Belanda dalam menjalankan misi historis mereka.

Bagi Multatuli, pemrintah kolonial saat itu tidak mampu membebaskan kaum pribumi belanda dari bentuk penindasan adat yang dialami selama berabad-abad. Pemerintah kolonial malahan melakuakn semakin memperkuat struktur penindasan itu melalui kebijakan pemerintahan yang langsung, yang menggunakan pemimpin tradisional dalam menjalankan birokrasi kolonial yang menimbulkan dilema dalam menjalankan kekuasaan kolonial.:

“hubungan antara pedjabat-pedjabat eropah, dan pembesar-pembesar Djawa jang tinggi kedudukanja demikian, sangat halus. Asisten residen wuatu wilayah adalah orang jang bertanggdjawab; dia mendapat petundjuk-petundjuk dan dianggap sebagai kepala wiljah. Tapi ini tidak mentjegah bahwa bupati djauh lebih tinggi kedudukanja daripadanja, karena pengetahuandja tentang tempat, karena kelahiran, karena pengaruhnya pada penduduk, karena penghasilanja berupa keungan, dan karena tjara hidupnja sesuai dengan itu…

Orang tidak perlu takut kepada pedjabat Eropah itu kalau ia tidak senang, sebab banjak jang lain jang bisa menggantikanja, sedangkan kemarahan seorang bupati mungkin bisa mendjadi benih baru huru-hara dan pemberontakan.”

Oleh karena itu, adalah sia-sia usaha pemerintah kolonial memperbaiki taraf kehidupan masyarakat pribumi selama struktur feodal yang membebani rakyat jawa saat itu tetap dipertahankan sebagaimana dinyatakan Multatuli:

“Djadi, memang ada kesukaran jang hampir tidak bisa diatasi untuk melaksanakan sumpah:’melindungi penduduk Bumiputera terhadap penghisapan dan penganiajaan’”
Maka dibandingkan dengan perdebatan politik tentang persoalan kolonialisme, roman Max Haveelar sebenarnya lebih memberikan jawaban tegas tentang bagaimana fungsi sejarah kolonialisme seharusnya dijalankan.

Bagi Multatuli, problem dasar kolonialisme Belanda saat itu terletak dalam kemampuannya membebaskan penduduk pribumi dari cengkraman adat yang telah berurat akar dalam sejarah masyarakat pribumi. Kedudukan-kedudukan tradisional yang dinikmati oleh penguasa pribumi menjadi landasan penindasan rakyat pribumi di dalam struktur feodal seperti yang digambarkannya:

“ada bupati-bupati jang tidak begitu sewenang-wenang, dan hanja meminta dari rakjat biasa apa jang sungguh-sungguh diperluaknnya untuk memelihara gengsinja. Jang lainnja bertindak lebih djauh,…dan dimana-mana tentu ada pelanggaran hukum itu. Karena itu sukar, ja, tidak mungkin untuk menghilangkan kesewenang-wenangan demikian sama sekali, karena kesalahanja terletak pada sifat penduduk sendiri jang menderita dibawah tekanan itu. Orang Djawa sifatnya pemurah, terutama dimana ia hendak membuktikan kasihnja kepada kepalanja, kepada keturunan-keturunan orang-orang jang dipatuhi oleh orang tuannya; dan ia merasa kurang terhormat kepada djundjunngannya terun-menurun, djika ia mendjedjak Keraton tanpa membawa barang persembahan.”

Dan sayangnya, penindasan seperti itu justeru menjadi landasan kekuasaan kolonialisme Belanda di Hindia Belanda. Dalam kidung tentang nasib Saidjah dan Adinda, Multatuli melukiskan dengan penuh amarah penindasan terhadap kaum tani di daerah Lebak di mana ia bertugas sebagai asisten-residen:
“Ajah Saidjah mempunyai seekor kerbau; dengan kerbau itulah ia mengerdjakan sawahnja. Ketika kerbau itu dirampas oleh kepala distrik Parungkudjang, ia sangat bersedih hati, ia tidak berkata sepatah kata, berhari-hari lamanja. Sebab sebentar lagi tiba musim membadjak, dan ia kuatir kalau tidak tjepat mengerjakan sawah, waktu menjemai pun akan lewatdan akhirnja tidak ada padi jang akan dipotong untuk disimpan di dalam lumbung rumah…

Lalu ajah Saidjah mengambil keris pusakan warisan ajahnya. Keris itu tidak begitu bagus, tapi sarungnja berikat perak, dan di udjung sarung itu ada pula pelat perak. Didjualnya keris itu kepada seorang Tjina jang tinggal di ibukota, dan ia pulang kerumah denagn dua puluh empat gulden; dengan wang itu lah ia membeli kerbau lagi…

Saidjah yang waktu itu kira-kira berusia tudjuh tahun, segera bersahabat dengan kerbau baru itu.
Saidjah sudah sembilan tahun dan Adinda enam tahun, ketika kerbau itu dirampas dari ajah Saidjah oleh kepala distrik Parungkudjang.

Maka adjah Saidjah jang amat miskin, mendjual kepada seorang Tjina dua pengait kelambu—barang pusaka mertuanja,–laku delapan belas gulden; dan dengan uang itu dibelinja seekor kerbau lagi…
Ketika kerbau itu dirampas dari ajah Saidjah dan disembelih…ajah Saidjah melarikan diri dari desanja, sebab ia takut sekali dihukum djika tidak membajar padjak tanahnja, dan ia tidak mempunjai harta pusaka lagi untuk membeli kerbau lainja….”

Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh para penguasa pribumi membuat ia tidak mampu menahan lebih lama lagi untuk mengadukan bupati Lebak kepada Gubernur Jenderal. Namun bukannya perbaikan yang didapatkan melainkan surat pemberhentian dari Gubernur Jenderal dikarenakan pengaduannya dikhawatirkan membawa pengaruh buruk bagi sistem kekuasaan yang telah berjalan langgeng. Menyadari dirinya tidak ubahnya seperti Don Qisot, akhirnya Multatuli meminta berhenti dari jabatannya dan menuliskan surat terakhir kepada Gubernur Jenderal sehubungan dengan peristiwa yang dialaminya:

“jang mulia menjalahkan saja…atas dasar-dasar jang sama sekali isapan djempol dan bohong….saja bisa membuktikan ini, dan ini telah saja lakukan sekiranja jang mulia memberi saja waktu setengah djam untuk didengar, sekiranja jang mulia menjediakan waktu setengah djam untuk menegakkan hukum….Jang mulia telah membenarkan sistem penjalahgunaan kekuasaaan, sistem perampokan dan pembunuhan jang memberati pundak orang djawa jang malang, dan karena itulah saya mengeluh.”
“Hal itu minta perbaikan! Darah melekat pada uang jang disimpan dari uang gadji jang diterima dengan djalan itu, jang mulia!”

Jadi sudah kah anda, khususnya kaum politisi, aktifis dan akademisi membaca roman Max Haveelar-nya Multatuli? Atau anda sama sekali tidak paham dengan humanisme modern pada titiknya yang paling riil, atau anda justeru tak beda dengan kaum penjajah yang dengan kekuasan tradisionalnya memakan uang yang melekat dengan lumuran darah rakyat!! Selamat membaca.

***Sabiq Carebesth, 2010

Iklan

One thought on “Saijah dan Adinda; Tentang Riwayat Kegagalan Misi Historis Kolonialisme Belanda di Hindia Belanda

  1. bundanaole berkata:

    Reblogged this on bundanaole and commented:
    waktu SD pernah baca buku yang judulnya Saijah dan Adinda. masih inget sampulnya..tapi browsing2 ga dapet sampul yang dimaksud.
    btw, bener2 ga nyangka dah baca buku berat gini jaman SD #bangga wkwkkwwk
    tapi mungkin versi yang ku baca itu versi singkat n masi bisa dicerna anak2 ya..entah lah..bener2 lupa isinya :p

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Februari 2012
S S R K J S M
« Okt   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Pengunjung

  • 47,981 hits
%d blogger menyukai ini: