Menyoal paradigma kebijakan pangan

Tinggalkan komentar

Februari 4, 2012 oleh sabiq carebesth

Oleh : Sabiq Carebesth**

Saat ini kedaulatan pangan nasional Indonesia dalam tekanan imperialisme dan dominasi korporatisasi di sektor pangan. Pemerintahan Reformatif yang dimulai sejak Mei 1998 tampak tidak pernah terlepas dari persoalan pembangunan rejim pemerintahan sebelumnya. Akhirnya pengembangan sektor pertanian pada era reformasi seperti kini pun menjadi sesuatu yang tak mudah. Ada beberapa kendala ekonomi-politis yang secara struktural membatasi akselerasi pembangunan pertanian nasional sebagai pilar perekonomian bangsa, salah satunya adalah beban sejarah sektor pertanian dimana ada kegagalan implementasi model pembangunan masyarakat dalam pengembangan pedesaan, pengentasan kemiskinan, dan tentu saja ekonomi-politik terkait persoalan kedulatan pangan yang kini dalam ancaman liberalisasi dan privatisasi oleh rezim korporat pangan.

*****

“Ekonomi Politik Pangan:Kembali ke Basis: dari Ketergantungan ke Kedaulatan” merupakan buku terbitan BINA DESA,  lembaga yang sudah 36 tahun berkecimpung dalam issu ekonomi politik pangan yang dengan bersemangat membela paradigma “Kedaulatan Pangan” ketimbang “Keamanan dan Ketahanan” pangan.  Buku yang merupakan kumpulan karangan senada dan sebangun mengenai pangan dari sisi paradigma kedaualatan ini terdiri dari 9 bagian dan 18 bab yang ditulis oleh 18 pakar pangan yang menyoroti persoalan pangan dari multi disiplin dan multi perspektif dari ekonomi, politik, ekologi, budaya dan filsafat. Judul buku,Ekonomi Politik Pangan:Kembali ke Basis: dari Ketergantungan ke Kedaulatan”, tampaknya mencoba menangkap keprihatinan dan harapan dari ke-9 bagian yang terdiri dari 18 bab tersebut.

Paradigma “kedaulatan pangan” dipilih sebagai keberpihakan para penulis dalam buku ini dalam melihat fenomena krisis dalam ekonomi-politik pangan di Indonesia, dan di sisi yang beberapa makalah dalam buku ini, dengan pakem paradigma kedaulatan pangan, bermaksud menghadapi gencarnya tsunami informasi yang berparadigma “Ketahanan Pangan” dan “Kemanan Pangan”, dimana  dalam dua paradigma yang terakhir itu pelaku produsen pangan dianggap tidak harus petani dan nelayan baik perempuan maupun laki-laki yang sekaligus produsen dan konsumen. Selain itu dalam paradigm keamanan dan ketahanan pangan, ketersediaan pangan “halal” saja bila cara pemenuhannya menempuh jalur impor, tak perduli walau kebijakan impor pangan justeru menciptakan “proletarisasi massa” kaum petani lokal.

Dari 18 bab yang ditulis oleh 18 penulis yang tersedia dalam buku ini, walau kesemuanya dengan tegas mengamini paham “kedaulatan pangan” dalam cara pandangnya, namun buku ini dengan seimbang tetap menyampaikan informasi dan kontestasi ide antara penganut paradigma “kedaulatan pangan” di satu pihak dan paradigma “ketahanan dan keamanan pangan” di lain pihak.

Asumsi yang dibangun buku ini adalah bahwa produsen pangan utama, yaitu para petani kecil, nelayan tradisional dan perempuan_dalam arti jumlah orang yang terlibat dan dihidupi dari pola produksi pangan rakyat ini__masih amat besar di Indonesia, jauh lebih besar daripada produsen pangan yang berbentuk korporasi. Juga bahwa produksi pangan menjadi tempat mendapatkan pekerjaan dan kepuasan budaya yang mestinya dipertimbangkan oleh mereka yang perduli pada soal pangan khususnya para pengambil kebijakan.

Dimensi budaya dan filsafat kerja dalam dinamika pergulatan soal pangan adalah pernyataan bahwa pekerjaan memproduksi pangan itu adalah alat mengangkat harga dan harkat diri bagi rakyat.

Bila pangan hanya didekati dari paradigma ketahanan dan keamanan saja, secara filosof produksionisme pangan menjadi menghilangkan peluang pengadaan pangan sebagai alat menciptakan pekerjaan, dan karena itu juga alat pengangkat harkat.

Selain itu, buku ini ingin mengatakan bahwa paradigma “keamanan dan ketahanan” pangan tidak mengakui peran dan  kontribusi perempuan dalam produksi, konsumsi dan distribusi pangan. Yang terjadi justeru sebaliknya: paradigm keamanan dan ketahanan pangan ingin membangun asumsi bagaimana makna keterlibatan dalam produksi, konsumsi dan distribusi ditujukan bagi kelangsungan kehidupan perempuan yang notabene dianggap lemah dan tidak punya peran. Paradigma semacam itu kemudian secara simultan dengan mudahnya menggantikan peran perempuan dengan korporasi pangan.

*****

Pada tempat yang lain, objektifitas buku ini sampai pada asumsi yang lebih mendalam dan paradigmatik, dengan secara tersirat menyatakan bahwa paradigma ketahanan dan keamanan pangan adalah paradigma yang membuka pintu bagi monopoli atau oligopoli dari korporasi pangan.

Kenapa? Dari titik itu lah sarana-sarana produksi pangan, seperti tanah, air, bibit dan iklim yang kondusif menjadi perebutan antara petani dan korporasi pangan. Tentu korporasi yang menang, karena didukung oleh perangkat Negara yang dibayar dari pajak rakyat termasuk petani.

Lebih dari itu, buku ini juga sadar dan menalar keadilan gender dalam produksionime pangan. Buku ini menyatakan, jika lebih dalam melihat pada pihak yang kalah, perempuan berada pada lapisan paling bawah dan ditempatkan pada ruang domestik karena tidak adanya akses pada ruang produksi. Dan sepertinya, untuk  melawan cara berpikir, berencana dan bertindak seperti dalam paradigm “kemanan dan ketahanan” pangan itu lah parade karangan di dalam buku  ini diterbitkan oleh lembaga BINA DESA yang seacara konsisten, 36 tahun, berkicumpung dengan persoalan kedaulatan pangan rakyat khususnya rakyat jelata di pedesaan.

Paradigma kedaulatan pangan yang di anut para penulis dalam buku ini melihat bagaimana korporasi pangan sebenarnya cenderung kalah setia daripada petani dan nelayan dalam menyediakan pangan untuk bangsa. Namun, galibnya, seperti dalam kasus estate pangan (food estate) di Merauke, yang dipercaya oleh pemerintah untuk mensuplai pangan penduduk justru korporasi pangan. Sementara hampir semua kebijakan pemerintah meminggirkan produsen pangan utama.

Dan tampaknya dalam 370 halaman buku ini, hal paling inti yang ingin diwacanakan buku ini adalah bahwa paradigma kedaulatan pangan juga mengedepankan perpsektif ekologis, kesetaraan gender dan revitalisasi budaya. Buku ini juga percaya, sebagai usaha berdaulat dalam hal pangan yang sudah dipraktekkan bermillenium oleh para petani, selalu mempunyai pendekatan dan  praktek holistik: ekologis, setara gender dan ramah budaya. Ketiga hal itu juga merupakan kekuatan yang mengandung dorongan produksi dan keadilan distribusi secara berkesinambungan. Dan di pihak lain, ketiga hal itulah yang dipotong dan dibuang ke kotak sampah oleh pendekatan ketahanan dan keamanan pangan dari korporasi pangan dan pemerintah.

Melihat debat paradigmatik di atas, bisa dikatakan tema keamanan dan ketahanan pangan juga penting, dengan syarat dua hal itu didudukkan pada dasar kedaulatan pangan. Artinya, kalau petani, nelayan dan perempuan berdaulat dalam hal produksi, mereka bisa dididik dan dibangun kesadarnnya untuk juga mengetengahkan keamanan pangan. Kalau petani berdaulat dalam hal produksi, mereka juga akan menjadi peserta aktif dalam menciptakan ketahanan pangan bagi bangsa. Dengan demikian perempuan tidak harus tinggal gelanggang dan lari  keluar menjadi buruh migran yang rawan pelecehan dan berbagai kekerasan. Selamat membaca..***

 

Data Buku

Judul       : “Ekonomi Politik Pangan: Kembali ke Basis: dari Ketergantungan ke Kedaulatan”

Terbit      : cetakan I, Oktober 2011

Tebal       : XIII+ 370 halaman

Penerbit : BINA DESA

**Sabiq Carebesth, pecinta buku dan kesenian. Tinggal dan bekerja di Jakarta sebagai Redaktur Jurnal dan Bulletin “AGRICOLA”

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Februari 2012
S S R K J S M
« Okt   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Pengunjung

  • 47,944 hits
%d blogger menyukai ini: