Soe Hok Gie: Riwayat Seorang Pejuang yang Sendirian

2

Februari 1, 2012 oleh sabiq carebesth

“Kita semua terdidik untuk berontak terhadap semua kemunafikan. Kawan, apa kabar Indonesia Raya?”__Soe Hok Gie, 1969.

41 tahun sudah meninggalnya Soe Hok Gie, 16 Dsemeber 1969 di Gunung Semeru. Mengenang dan belajar atas apa yang sudah dikerjakannya barangkali dapat memperlapang jalan untuk melihat situasi Indonesia hari ini, dan barangkali menemu jalan untuk keluar dari situasi krisis kronis yang ada hari ini. Namun yang pasti sikap ‘kritis’ seperti sudah dikerjakan Gie adalah usaha baik untuk melawan usaha-usaha dehumanisasi dan anti Demokrasi seperti sudah dikerjakannya. Tapi siapakah sebeneanya Soe Hok Gie? Biar lah jawaban itu ada dibenak setiap kita yang mengenalnya, dalam ragam citra dan kenangan atasnya. Bukankah hal paling indah adalah ditempatkan pada titik yang manusiawi saja?

Riwayat Keterasingan: yang kedinginan, yang kesepian, yang sendirian

Suatu kali Soe Hok Gie bicara dengan kakaknya, Arif Budiman, katanya:”Kadang-kadang saya merasa sangat sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya Si…saya merasa dia sangat menghargai saya. Malah dia mengagumi saya dalam tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti menolak. Terlalu besar resikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya, tulisan dan kritik-kritik saya tanpa mau terlibat dengan diri saya.”

Beberapa waktu kemudian Gie mendapat surat dari kawannya di Amerika:”Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu. Mula-mula, kau menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini kalau kau mau bertahan sebagai intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian; penderitaan.” Surat itu oleh Gie lantas di tunjukan pada kakaknya, Arief Budiman. Dari wajah Gie jelas tergambar”Ya, saya siap!” kenang Arif Budiman.

Selanjutnya, dalam catatannya Arief Budiman mengisahkan, dalam suasana seperti itulah Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang ia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil rakyat yang duduk diparleman yang adalah kawannya turun ke jalan sepanjang tahun 1966; agar tambah pandai bersolek dan menjilat dimuka penguasa. Suatu hal yang membuatnya tambah terasing lagi.

Ketika akhirnya Gie tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, jenazahnya dibungkus dalam sebuah kantung plastik; kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan ia tampak begitu tenang.”tentu dingin dan sepi terbungkus dalam plastik itu.” kenang Arief Budiman, kaka Gie yang menjemput jenazahnya di kaki gunung Semeru.

Soe Hok Gie dan Zaman Peralihan

Sejarah ditulis oleh mereka yang menang, itulah pragraf yang menandai penulisan dan dunia kesaksian sejarah selama masa hampir 32 tahun Orde Baru. Setelah itu hampir pasti di pahami, dan bahkan sampai hari ini, seolah-olah orde baru terpisah dari orde lama, dan orde baru merupakan kekuatan sejarah yang berdiri sendiri. Imagologi sejarah seperti itu baru sekelumit dari banyak pembiasan kesaksian sejarah yang dikonstruksi oleh mereka yang menang atau berkuasa. Tetapi sudah merupakan kewajiban bagi suatu generasi untuk menggali kembali sejarah dan memungkinkan suatu pandangan kebenaran yang lain. Suatu catatan sejarah yang menjadi “kesaksian bagi mereka yang menjadi korban sejarah, bukan aktor utama sejarah,” itulah nasihat Albert Camus.

Fase transisi di Indonesia, baik setelah Revolusi Kemerdekaan 1945 maupun reformasi 1998 menyiskan suatu pekerjaan lain diantara pekerjaan yang mendesak dan banyak-reformasi politik, reformasi kebangsaan, reformasi kelembagaan Negara, demokratisasi ekonomi dan politik-ada tugas lain yang penting yang mungkin menolong fase transisi yang sampai hari ini belum bisa dikatakan berhasil terlewati. Yang dimaksudkan adalah penamabahan pengertian tentang sejarah politik selama hamper 70 tahun terakhir ini, karena di situ bangsa ini mungkin mencari sumber kesulitan sekarang disamping, mungkin menemukan pelajaran yang dapat melapangkan sedikit jalan keluar dari keadaan krisis sekarang ini. Bukankah yang terpenting dari setiap perubahan adalah lahirnya kesadaran historis pada masayarakatnya?
******

Catatan alternatif di luar meanstream, atau grand narasi catatan sejarah kaum penguasa yang menjadi kewajiban suatu generasi kiranya sudah dilakukan Soe Hok Gie sepanjang hidupnya sebagai intelektual yang idealis. Melalui catan-catatannya di berbagai media, Gie menyuarakan suara kritisnya, yang sekaligus menjadi kesaksian (sejarah) dari anak generasi atas periode sulit zaman peralihan Orde Lama-Orde Baru.

Sebagai suatu kesaksian atas zamannya, catatan Soe Hok Gie sangat kental dengan subjektifisme,(mengingat Gie adalah seorang intelektual non partisan). Suatu subjektifitas yang berada pada posisi kontroversial, maka sudah barang tentu pula mendulang resiko untuk disetujui, di bantah atau pun ditolak. Namun terlepas dari ukuran untuk diterima atau di tolak, bagaimanapun Gie sudah memotofasi kita untuk selalu menumbuhkan kesegaan berpikir, dan menyikapi gejala-gejala anti Demokrasi dan dehumanisasi secara kritis.

Tahun 1967-1969
Tahun antara 1967-1969 adalah tahun transisi, zaman peralihan pada tingkat elit kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Lazim pada situasi transisional melahirkan pemikiran-pemikiran yang kritis dan radikal. Itu pula yang hampir menjadi ruh dan nafas catatan Gie. Tulisan-tulisan Soe Hok Gie sangat tajam dan menggigit, dan seringkali sinis. Suatu kesinisan yang wajar yang sekaligus menjadi penanda konsistensi sikap Gie pada kemanusian dan idealismenya sebagai intelektual. Maka terasa wajar bila membaca catatan Soe Hok Gie rasa kemanusiaanya seperti dirobek-robek.

Semua tulisan dalam catatan Soe Hok Gie sangat kental beraroma keprihatinan atas kemanusian Indonesia di zaman itu. Menunjukan suatu idealisme kaum muda, beserta pula frustasi yang melingkupi zamannya. Dalam catatan yang yang berjudul “Sebuah Generasi yang Kecewa” dan “Generasi yang lahir setelah tahun empat lima.” misalnya, Gie memberitahu kita suatu ironi zaman, ketragisan suatu “Idealisme” saat harus berhadapan dengan culasnya kekuasaan. Bagaimana idealisme setinggi langit menjadi sia-sia belaka, ketika harus menghadapi verbalisme pejabat, kepalsuan dan kedegilan. Pemuda-pemuda Indoensia yang penuh dengan Idealisme akhirnya hanya punya dua pilihan. Yang pertama tetap bertahan dengan idealisme mereka, menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Dan orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala: “Dia pandai dan Jujur, tetapi ssayangnya kakinya tidak menginjak tanah.” Atau dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus, bergabung dengan group yang kuat (Partai, ormas, ABRI, klik dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. (Hlm.80) itulah sekelumit penggambaran Gie atas angkatannya dan zamannya beserta ironi dan tragiknya.

*****
Mengenang Gie dan catatannya akan senantiasa memberikan ruang reflektif, dan kesempatan untuk melakukan evaluasi dan kritisisme terhadap situasi yang mendekati gejala anti Demokrasi dan de humanisasi pada zaman kita sekarang. Banyak potret penderitaan masyarakat kecil yang terus terjadi bahkan tak kunjung usai sesudah hampir 12 tahun lebih reformasi; demokrasi yang mekanik dan rakyat yang gagap atasnya, kongsi dan aviliasi kelompok elit yang hanya mementingkan kemakmuran sendiri, penembakan petani, penganiayaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tanpa ada komitmen keberpihakan dan perlindungan riil dari negara, kelaparan dan krisis pangan sampai perampasan sumberdaya alam yang tak jarang memakan tumbal nyawa.

Dalam konteks itulah sesungguhnya situasi kebangsaan Indonesia kini sebenaranya masih belum lagi beranjak dari suatu krisis kepercayaan dan krisis kepemimpinan sejak dari fase transisi pasca Mei 1998. Bangsa ini setelah hampir 12 tahun lebih reformasi berjalan rupanya masih linglung, dalam suatu kondisi  populivacante: berbangsa tanpa panutan yang bisa dicontoh, yang seharusnya diberikan mereka yang berada di puncak-puncak kekuasaan.

Krisis legitimasi yang menurut Dr. Kuntowijoyo dalam kata pengantar untuk salah satu Buku Soe Hok Gie, terjadi tatkala perilaku yang ada di tingkat kekuasaan-yaitu kekuatan-kekuatan yang secara menyeluruh mendominasi ekonomi, politik, jenjang sosial dan produksi kultural tak mampu lagi jadi panutan masayarakat. Situasi yang pernah dicatat Gie yang menghadapkan siapapun pada pertanyaan klasik,”Di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi idealis atau apatis. Dan saya sudah lama memutuskan bahwa saya akan menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya.” (LP3S, 1983 hal. 221) demikianlah ketegasan sikap Gie, menjadi idealis sempai batas sejauh-jauhnya. Dan Gie sudah membuktikannya dalam catatan-catatannya, dalam keterasingan dan kesendiriannya, sampai kematiannya!

“Kita semua terdidik untuk berontak terhadap semua kemunafikan. Kawan, apa kabar Indonesia Raya?”

*Sabiq Carebesth
Penyair dan Pecinta buku, mantan Kepala Suku Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD) Yogyakarta
#sumber: Tribun Timur: http://202.146.4.121/read/artikel/140904/

Iklan

2 thoughts on “Soe Hok Gie: Riwayat Seorang Pejuang yang Sendirian

  1. wiriyanto aswir berkata:

    i like this Article…i don’t know,,nowadays..IS THERE I CAN BELIEVE?

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Februari 2012
S S R K J S M
« Okt   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Pengunjung

  • 46,833 hits
%d blogger menyukai ini: