Albert Camus dan Generasi Zaman Kita

Tinggalkan komentar

Februari 1, 2012 oleh sabiq carebesth

Judul: ”Resistence, Rebelion and Death” /Perlawanan, Pemberontakan, Kematian.
Pengarang: Albert Camus
Penerbit: Pustaka Promethea
Cetakan: cet 1, 2007
Tebal: X+ 350 hlm
Peresensi: Sabiq Carebesth*

Buku ini ditulis Albert Camus dengan bahasa kita, dia berbicara pada kita, dan tentang masalah-masalah kita. Seperti yang ditegaskannya sendiri dalalam surat penghargaan Nobelnya 1957, ”Masalah-masalah hati nurani manusia di zaman kita.” Zaman generasi pasca perang.

Oleh karenanya tidak berlebihan rasanya untuk menyebut buku ini sebagai kepemimpinan intelektual, politik bagi generasi sesudah perang, generasi kita. Siapakah generasi pasca perang? Ialah generasi abad ke-20. Generasi dan suatu abad zaman yang diliputi perang; kegetiran kamp-kamp buruh-budak di rusia, ironisme dukungan AS terhadap Spanyol di bawah kekuasan Franco. Juga nihilisme prematur dan pesimisme yang dianggap sebagai racun abad yang sulit diatasi. Dan sekarang generasi yang mengalami anomi (unnormality; life without charakter dan value) sebagai akibat panjang dari konstruksi budaya neoliberal yang hedonis sekaligus eksploitatif.
Di Indonesia kita yang elok ini? Abad 20 adalah abad pergolakan, peralihan menuju modern yang dipaksakan, impian melesat untuk menjadi sama modern dengan negara-negara maju di belahan eropa dan amerika sana, yang rupanya menyimpan pula ironi dan tragiknya: peristiwa 1965, polemik politik aliran, konflik dan profokasi horozontal, ekonomi pembangunan (developmentalisme) yang timpang, dan tidak luput pula polemik ironis kebudayaan LEKRA vs Manifesto Kebudayaan.—itulah masalah hati nurani manusia di zaman generasi kita.

Di tengah situasi memprihatinkan itulah Albert Camus muncul, hadir (bersama karya-karya polemisnya) memberontak dari kegelisahan dan tempat yang dirasakannya tidak sesuai hati nurani kemanusiaan, untuk berbicara lantang menjadi pembela gigih atas nilai-nilai moral positif kita dan “manusia-manusia diam yang”, diseluruh dunia, memikul kehidupan yang telah diciptakan untuk mereka. Itulah yang dilakukan Camus dengan karyanya; berbicara sejauh dia dapat bagi mereka yang tidak dapat berbicara.” Fungsi penulis bukanlah tanpa tugas yang sulit. Penulis hari ini tidak boleh melayani mereka yang membuat sejarah. Dia harus melayani mereka yang menjadi sasaran sejarah itu.” Itulah credo yang disampaikan Camus di balai kota Stock Holm 1957.

Tidak lama setelah The Stranger, The Plague mendapat pujian dari semua negara, pada 1950, 1953 dan 1958 Alber Camus meluncurkan tiga Volume “Actuelles”. Tiga volume actueless dan sebuah buku kumpulan esainya bertajuk ”Resistence, Rebelion and Death”, tidak hanya meneguhkan eksistensi Camus sebagai penulis terkemuka Prancis dan dunia. Tetapi sekaligus menunjukan komitmen Camus, yang seperti dikatakannya”untuk mengabdi pada kebenaran, dan mengabdi pada kemerdekaan.”
Esai-esai dalam ”Resistence, Rebelion and Death” ini seperti dikatakan Justin O’ brein dalam kata pengantarnya untuk buku ini, adalah esai-esai yang memperkenalkan Camus yang sebenar-benarnya baru—apa yang mungkin boleh disebut sebagai Camus yang sebenarnya (The Camus Actuel). Esai-esai dalam buku ini mengungkapkan secara lebih jelas sikap salah seorang dari jiwa paling jelas dari zaman kita—orang yang komit sekaligus jauh. Atau seperti dikatakan dengan tersirat dalam esai moralnya sendiri “The Artist at Work”, seorang yang solider dan sekaligus soliter. Maka terasa tidak berlebihan bila Justin O’ brien menyebut camus dan tulisannya seperti 3 volume title esainya, Actuelles: kecil tapi padat, menyindir tapi tidak deskriptif, dan bersahaja. Berlaku sekarang dan untuk kepentingan saat ini.
*****

”Resistence, Rebelion and Death” ini berisikan 23 esai terbaik Camus yang dipilih olehnya sendiri, yang menurutnya layak untuk diabadikan.
Secara tematik buku ini berbicara tentang kemerdekaan dan (membela) kebebasan, tentang paham kebangsaan (cinta tanah air) beriring dengan faham keadilan (kemanusiaan), juga tentang generasi pasca perang (abad ke 20) yang berhadapan dengan frustasi, pesimisme-nihilisme, juga sosialisme (realis), dan yang terakhir paham kesenian Albert Camus yang terdapat dalam esainya”Taruhan Generasi Kita” dan “Bercarya dalam Bahaya” yang menyiratkan dengan lebih mendalam apa yang disebut Camus sebagai “Memasukkan karya kedalam zamannya.”

Buku ini dibuka dengan ajakan kepada kita untuk merenungkan polemik dan ironi kebangsan (cinta tanah air) dan keadilan sebagai paham kebebasan Camus. Dalam esainya pembukanya kepada Rene Leynaud, ”Kepada Sorang Sahabat Jerman”. Dalam esai itu terdapat sebuah dialog, dimana Camus bicara dengan nada lantang, tegas dan mantap. Dengan gaya pidato seorang propagandis dalam situasi perang. Dengan kesadaran penuh bahwa kata-kata selalu mengambil warna dari setiap perbuatan atau pengorbanan yang ditimbulkan oleh kata-kata itu, yang karenanya tidak memberikan makna yang sama pada kata-kata yang sama, dan tidak berbicara dengan bahasa yang sama. Kata-kata yang dimaksud Camus dalam pembicaraan surat “Kepada Sorang Sahabat Jerman” itu adalah: kata-kata “Tanah Air”

Nasionalisme buta, paham kebebasan orang-orang Jerman (ketika itu) di bawah hiruk pikuk panji perang dan pembantaian Nazisisme: Nasionalisme. Yang menurut Camus, “Bergelimang dalam kebohongan pada saat diperlukan dan abai terhadap pencarian kebenaran. (hlm. 7)

Demikianlah Camus benar-benar mengutuk nasionalisme jenis itu, cinta tanah air; yang hanya demi membangun kejayaan dan bangunan megah tanah airnya, berdiri di atas tumpukan mayat manusia-manusia yang dikalahkan. Pepernagan dan mengabaikan keadilan serta merendahkan intelegensia. “Aku tidak mencintai negaraku, jika ketidakadilan terdapat dalam apa yang kita cintai, itu sama saja dengan tidak mencintainya.”
Dengan cara memandang dunia yang semacam itu, manusia-manusia lantas menjadikan negara sebagai suatu sentris, tujuan tunggal dan yang diluar dari itu bersifat subordinat!! Itulah paham keliru yang ditentang Camus terhadap pemaknaan nasionalisme “Cinta Tanah Air”.

Tema dalam keempat surat Camus untuk Rene Leynaud rasanya tepat untuk generasi kita sekarang untuk merefleksikan kembali gagasan kebangsaan, cinta tanah air yang menancap dalam pikiran dan dada, untuk mempertanyakan kembali, dihadapan paham keadilan, kebebasan dan pencarian terus menerus akan kebenaran dan cinta kasih sesama. Agar jangan sampai kata (demi) tanah air, “mengandung nada tambahan yang buta dan berdarah, dan menjadikan kata itu selamanya bertentangan dengan kemanusiaan kita–keadilan dan kebebasannya-. (Suarat Ketiga, hlm. 23)
***********

Konfrontasi dan pesimisme
Ditengah situasi sosiologis dan antropologis yang dibubuhi perang, camp-camp konsentrasi, ketakutan dan ancaman—beserta Prancis yang terjajah Nazisme Jerman, gagasan keadilan, hati nurani, pencarian kebenaran, wajar ketika itu ditempatkan dibawah di posisi subordinat dibawah paham Nasionalisme yang menggelora dan herois; yang dibumbui perlawanan dalam bentuknya yang paling brutal, kebengisan yang sama melukai kemanusian, dianggap sebagai ide pesimistis yang melemahkan hati—dihadapan perang dan perlawanan. Di Prancis dalam suasana perang saat itu pelajaran tentang hati nurani dan kebebasan seperti dibicarakan Alber Camus, atau eksistensialisme (Malraux dan JP. Sarte) benar-benar dituding sebagai cikal pesimisme, soliterisme; benar-benar tidak punya tempat dihadapan Prancis yang Bonaparteis.

Di tengah zaman yang carut marut semacam itu Alber Camus (dengan pembelaanya atas kebebasan&keberanian) menilai gagasan bahwa filsafat pesimistis adalah filsafat yang membuat kecil hati, merupakan ide yang kekanak-kanakkan. Tudingan seperti yang dilakukan oleh Georges Rabeaw dalam artikel “Nazisme tidak mati” yang dicatat dengan herois dan propaganis itu, dianggap Camus sebagai penilaian konformis yang berwawasan dangkal. Bagi Camus, filsafat eksistensial yang panjang dan terkenal itu, yang menurutnya kesimpulannya salah, namun setidaknya merepresenstasikan petualangan besar pikiran; bahwa kode moral bagi manusia memang tidak semuanya harus disimpulkan dalam negasi dan absurditas, namun”Kami harus terlebih dahulu mengemukakan negasi dan absurditas karena mereka itulah yang telah dijumpai oleh generasi kami. Karena bagi kami peradaban tidak dibangun dengan menegur orang secara pedas. Peradaban dibangun dengan konfrontasi ide-ide, dengan jiwa-jiwa, serta serta dengan penderitaan dan keberanian.” (Pesimisme dan Tirani, hlm. 73-74)—Combat, September 1945.
***********

Camus bukan tanpa kekurangan, buku yang ditulisnya, yang berisi keprihatinan atas zamannya ini—yang ditulis dengan kekhasan antara polemis dan tragedinya, yang ia penuh vitalitet dan dedikasi untuk generasi zamannya dan yang ia berkarya dalam bahaya, dalam beberapa bagian menunjukan sisi absurditas dan diri soliter yang melewati batas yang diterapkan oleh dirinya sendiri dan zaman kita sekarang. Beberapa tema pun terasa janggal bagi zaman kita sekarang misalnya tema-tema soal pers heroisme atau tema kesenian yang dibicarakan Camus. Namun hal itu tidak menutupi manfaat buku ini sebagai pemandu refleksi bagi banyak hal untuk manusia dan generasi kita. Bagi mereka yang masih perduli kebebasan kita??

*Direktur pada Lingkar Studi Kebudayaan Indonesia (LSKI)Jakarta, dan bekerja sebagai Editor Publikasi Indhrra (Indonesian Secretariat for the Development of Human Resources in Rural Areas) Yayasan Bina Desa.

 

Sumber tulisan: Kompas. com

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Februari 2012
S S R K J S M
« Okt   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Pengunjung

  • 43,809 hits
%d blogger menyukai ini: