Pemabuk di Sudut Mata Lembutmu

Tinggalkan komentar

Oktober 1, 2011 oleh sabiq carebesth

#Pemabuk di sudut mata lembutmu

Malam di mana kau disembunyikan oleh sebotol tuakku; kau menjadi lagu menjadi musik yang mendendangkan harapan akan pertemuan suatu hari nanti. Ada keheningan yang dijelmakan tanpa alasan. Ada sebatang rokok yang merintih-rintih di atas asbak seperti tungku peraduan dan hatiku diletakkan diatasnya.

Engkau di sana menyanyikan lagu-lagu dan malam mengabarkan betapa sepinya kehilangan. Tapi apa yang kulihat, dan kau tak melihatnya_hatimu yang mendendangkan madah-madah asmara kita, dilantunkan dengan hening di atas gunung jiwa yang meninggi ke pucuk penantian dibelai angin malam merasuki setiap tulang dan kehidupan membeku.

Kita yang diguncang oleh ombak dari airmatamu yang tumpah membadaikan malam dan dingin. Pertanyaan-pertanyaan tergolek kaku seperti sekumpulan nisan dalam prasasti dan tugu. Hendak di paksa menari dua jiwa kita yang nyeri. Dingin dan kebekuan yang menggigilkan harapan di pucuk lampu-lampu seperti malam-malam yang lalu. Dan di manakah hidup hendak mersetui percumbuan kita yang maha absurd.

Saut-bersaut dalam harap dan penantian; dua hati kita disimpang jalan di tepian batas yang mempesiang kedalaman jadi pekuburan dan babak asmara kita nyaris dalam kebekuan nisan dari runcing dagumu yang menyunggingkan senyuman bagi seorang asing yang datang menabur bunga di atas pemakaman jiwamu.

II

Kemabukanku dilumat rasa sakit yang diliputi cahaya. Rintihan yang mendoa di malam membuta antara kematian dan hidup baru. Air matamu alangkah sunyinya; lolongan hatimu alangkah sepinya; hanya yang maha hening sudi menengadahkan tangan agar menjadi lautan bagi ombak kerinduanmu yang mendalam tanpa batas tepi pasang gelombang jiwamu tiada kau mengerti.

Itu kah hatimu, melangkah hendak menjauh melepaskan segumpal cahaya yang dikandung dalam doa malammu dalam berjalan melewati api asmaradana? Hai siapa itu pemabuk dalam segelas kopi membawakan sepotong senja keemasan yang biasanya, berdiri di tepi dua mata lembutmu, menyanyikan lagu-lagu paling buruk yang membuatmu terpaksa merayu bocah kecil dalam kesepiannya; bisakah ia tertidur tanpa tatapan lembutmu; ibu bagi jiwanya yang yatim piatu.

Segurat takdir hendak meluluh pada jiwa kanak-kanaknya.

III

Aku menari sendiri dalam kamar jiwaku diiringi tabuh-tabuhan setiap jiwa yang lara karena asmara diantara dentuman-dentuman tanpa akhir dari kerinduan bertubi-tubi yang melantunkan segala yang urung dilafadzkan mantera dan doa malammu.

Aku berlari-lari mengitari sunyi mencari sepi yang menyembunyikan keriaanmu dalam warna tanpa rupa cahaya. Aku mencarimu dari kota ke kota, dari gedung-gedung hotel dan kafe, dari jeda-jeda kata di tengah sajak semati kamarku yang membeku tak merayu, di manakah engkau? Aku ingin mati agar kau datang membawakan segelas kopi dan sajak yang urung menuliskan namamu dan namaku. Selamat tinggal…

(di Kamar, Jakarta 16 Juli 2011)

 

#Dalam kamarku

Tumpah ruah pada malam kini, kesepian pada tempatnya sendiri, sesunyi-sunyinya, disandarkan kepada hening yang nyaris tak dapat dikenangnya, kemana ramai lampu kota dan canda kepiluan dari cinta yang ditaruh dibibir nasib, pada malam kini tak ada yang mencari malam. Malam pada malamnya sendiri, berjajar seperti barisan waktu yang berdetak lirih-lirih pamit berlalu.

Pada malam kini dalam kamarku, kuambil sejurus jarak dari malam yang lalu, pada lampu-lampu malam dan kereta laju, di sini pada malam kini kutimang diriku, dalam kekosongan usai kurelakan segala kejadian;sekarang aku orangnya kosong, ingatan berjatuhan dihadapan jarak antara malam dan kota itu, aku sekarang dimana?

Sebuah tatapan menyelinap, kupandang jelas pada bola mata yang terpelanting dalam kolam jiwa yang maha meragu, pandanganmu yang biasanya, tatapan mata lembutmu…

(Di kamar, 20 Mei 2011)

# Jiwanya

Pernakah ia menyangka suara itu kini melukai hatinya; seperti seruling bambu yang di dendangkan di tepi danau diantara perahu kecil dan obor dari rembulan.

Penderitaan membuatnya menjadi lebih tua, ribuan kenangan berjelaga dalam hatinya yang gulita dari obor yang di padamkan perlahan-lahan usai ia terangi langit dengan sebutir cahaya yang ia nyalakan dari kemurnian kehilangan. Ia kini lelaki tua duduk di antara malam dan sepi; hatinya tak dapat memberontak, betapa lemahnya di hadapan ketiadaan? Ia ingin pergi ke sana di antara kapal tua dan kepak burung malam dan kupu-kupu dan ia yakin ia takkan menemukan bayangannya.

Haruskah ia bentangkan pantai dan lautan paling dingin dalam dadanya agar ia tak harus kemana-mana; agar ia bisa duduk dan menunggu; menyanyikan lagu-lagu dalam hatinya selalu; tentang puspita jiwa yang direnggut oleh malam dan kesombongan.

Haruskan ia menari sendiri di atas perahu kertas yang di dindingnya tertanggal waktu-waktu itu? kenapa begitu peralahan setali bayangan ombak memutih menjadikan tubuhmu dengan gaun warna jingga dan kerling mata di seutas senyuman yang menarik-narik hati agar menyusuri serta kematian yang maha sunyi dalam penantian akan kebersatuan nanti.

Pada keluh yang mana sebait puisi menjadikan doa paling rapuh yang bisa ia dendangkan dalam kediaman waktu; lagu dalam hatinya berdetak-detak seperti hembusan nafas dalam batinnya ketika diantara lampu-lampu ia menemukan kekasihnya dan ia kucup senyuman yang menjadikan setiap inti dirinya menjadi kehidupan.

[DI kamar, 7 juli 2011]

Sumber : http://oase.kompas.com/read/2011/09/13/20492926/Puisi-puisi.Sabiq.Carebesth

Iklan

tanggapan dan opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Arsip

Kalender

Oktober 2011
S S R K J S M
    Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pengunjung

  • 44,765 hits
%d blogger menyukai ini: